Minggu, 04 Februari 2018

Saya Mungkin Ngotot dan Keras Kepala

Sumber gambar: Pixabay


Kemari lusa, ketika masih di rumah, saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaaan kebutuhan pokok tak begitu jauh dari rumah. Sambil menunggu kasir menghitung belanjaan, sesekali saya tolah-toleh memerhatikaan sekeliling. Di dalam toko, agak jauh dari tempat saya berdiri, saya memerhatikan seorang laki-laki memanggul barang dengan karung di atas pundaknya.

Dia memakai celana tiga perempat kaki. Kausnya lusuh. Dia terlihat begitu lelah. Ada yang tak asing. Setelah saya pehatikan betul, ternyata dia seumuran saya, laki-laki yang ketika saya duduk di bangku SMP kira-kira sebelas tahun yang lalu, paling jago di kelas dalam hal mata pelajaran.

Entah apa yang saya pikirkan sore itu. Yang jelas saya nelongso betul.

Kejadian seperti ini dengan orang yang berbeda tidak hanya saya alami sekali ini saja. Ada juga teman perempuan yang juga pernah satu kelas semasa kelas tujuh SMP. Ia, kini juga juga bekerja di salah satu toko kebutuhaan pokok tak begitu jauh dari rumah.

Saya masih ingat betul. Meskipun rumahnya jauh di bawah kaki Gunung Kelud sana, tapi untuk hal pelajaran dia tak bisa diragukan. Apalagi perihal menghapal rumus-rumus. Soal ilmu pengetahuan  alam yang waktu itu sudah mulai mempelajari fisika dan kimia, saya cuma bisa plonga-plongo berkali-kali ujian dan dia mendapatkan nilai yang nyaris sempurna.

Saya jadi teringat kembali tujuh tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Khawatir akan nasip saya usai lulus, ibu bahkan sudah ancang-ancang memilih jodoh untuk saya. Mungkin, kalau saya tak ngengkel kuliah waktu itu, saya tidak bisa duduk di depan komputer seperti pagi ini. Juga pacar saya waktu itu, yang tak menghendaki jika saya melanjutkan pendidikaan di luar kota. (maaf, tahun itu saya khilaf hehe)

Lantas, banyak hal berubah dan segala hal memang harus diperjuangan.

Kalau di semester delapan saya tidak ngengkel mengambi tawaran pekejaan di tempat kini saya bekerja, belum tentu saya masih ada di Surabaya. Padahal saat itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa aktif yang menanggung skripsi. Menjelang ujian, bu dosen pembimbing cuti haji dan kuliah saya terancam  molor.

Yang saya pikirkan waktu itu hanyalah: kalau saya tidak mengambil tawaran pekerjaan, mau makan apa? Bayar kos dan kuliah pakai uang siapa? Wong beasiswa full dari pemerintah yang saya dapatkan tidak menanggung biaya kuliah yang tak selesai tepat waktu.

Dari bangku kuliah perlahan saya tahu, fungsi pendidikan adalah memberantas kebodohan, menghilangkan ketidaktahuan. Hingga, manusia jadi paham untuk apa ia diciptakan. Jika lantas pendidikan pengantarkan seseorang menemui pekerjaan yang layak, itu bonus atas apa yang ia perjuangkan.

Dengan membagi ini, bukan berarti hidup saya jauh lebih enak dan bahagia bibanding teman yang saya jumpai kemarin sore. Bisa jadi, untuk urusan menata hati dan kebahagiaan, dia lebih hebat dari saya. Bisa jadi, ia memiliki istri yang cantik dan soleha, serta anak yang menggemaskan, manis dan pintar.


Saya hanya percaya, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang ngengkel dan mau berusaha lebih keras dari yang lain. Memperjuangkan banyak hal, bukan hanya pendidikaan, pekerjaan, tapi juga jodoh.

Sabtu, 27 Januari 2018

Pembawaan Diri yang Baik Akan Membawa Kesan yang Baik

Sumber gambar: Google


"Pembawaan diri yang baik akan meninggalkan kesan yang baik pula. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk instansi dimana dirimu berasal".


Setidaknya, itu yang saya rasakan ketika mendapati seorang mahasiswa datang ke kantor beberapa waktu yang lalu.

Di kantor, selain liputan di lapangan dan bekerja di balik meja sebagai editor naskah, saya adalah staf yang mendapat tugas untuk mengakomodir para penulis opini yang berhak mendapatkan honor. Biasanya, mereka yang antara lain merupakan mahasiswa, dosen, maupun alumni, datang ke kantor untuk mendapatkan hak mereka.

Tentu, hal semacam ini memungkinkan saya berkenalan dengan mereka para penulis. Bukan hanya berkenalan, saya sampai hafal karakter beberapa penulis yang langganan nulis ide-ide mereka di laman berita resmi universitas tempat saya bekerja.

Tentu macam-macam gayanya, apalagi mahasiswa. Ada yang trengginas sekali (macam bahasanya Gus Mul aja ya) ketika mendapat pesan untuk pengambilan honor; ada yang, entah mungkin saking sibuknya, berminggu hingga berbulan-bulan honor tak kunjung diambil. Macam-macam lah, karakternya.

Terlepas dari itu semua, saya salut atas kegigihan mereka dalam meramu topik menjadi sebuah gagasan yang layak baca.

Yang ingin saya bagi di sini adalah perihal cara mereka dalam 'membawa diri' ketika berhadapan dengan orang lain, orang baru, yang sebelumnya belum pernah bertemu.



Tepatnya, salah satu dari penulis opini yang adalah mahasiswa, datang ke kantor untuk mengambil honor. Kira-kira, begini yang ia ucapkan sesaat setelah membuka pintu ruangan.

"Permisi, mbak, mau ambil honor".

Saat itu saya sedang salat dan tidak menitipkan pesan kepada rekan kantor untuk meminta menunggu jika ada penulis opini yang datang.

Seandainya kamu berada di posisi rekan kantor saya yang berhadapan langsung dengan si-mahasiswa, kira-kira apa yang kamu pikirkan? Apalagi, mayoritas dari rekan kantor adalah arek Suroboyoan yang tentu, sangat cablak (baca: ceplas-ceplos). Apa dalam hati nggak langsung mbatin, "Lho koen iku sopo, reek?" Hehehe.

Unggah-ungguh ini lah yang seringkali saya dan rekan-rekan kantor jumpai. Apalagi, kerja di Humas memungkinkan kami berinteraksi dengan orang berbeda setiap harinya. Bukan hanya kalangan internal kampus, tapi juga pihak luar kampus.

Sesaat setelah si-mahasiswa pergi, rekan kantor dengan nada yang khas Suroboyoan itu bilang,

A: "Arek ngendi iku mau, Bin?"
Q: "FIB, Mbak."
A: "Wooh.. pantes."
Q: *Krik.krik.krik*

Kalau dalam teori komunikasi seperti yang pernah diajarkan Pak Suko Widodo (halah), kenali dirimu dan siapa yang kamu ajak bicara. Dalam posisi mahasiswa tadi, misalnya, posisikan diri sebagai orang baru yang berada di tempat baru. Tentu, menjadi sangat wajib bagi dirinya untuk mengenalkan diri, minimal nama; darimana berasal; serta apa keperluannya sehingga datang kemari. Jika tak bisa menyebutkan keperluan secara langsung karena ingin bertemu by name, maka sebutkan siapa yang sedang kamu cari. Mrs X, misalnya.

Ini mungkin sangat remeh. Usai kejadian itu, mungkin si mahasiswa tidak akan bertemu lagi dengan rekan-rekan kantor yang menerima ia di ruangan. Tapi apa yang ia tinggalkan membawa kesan. Orang kadang nggak 'ngeh' bahwa hal semacam ini penting untuk diperhatikan.

Dimanapun tempatnya, ketika datang di tempat baru, utamanya tempat yang memberikan pelayanan, wajib untuk memperkenalkan diri, menyebutkan darimana berasal, baru menyebutkan apa yang dibutuhkan.

Sekali lagi, hargailah dirimu sendiri dengan membawa kesan yang baik dimata orang lain. Semoga aku dan kamu tak akan pernah lelah dalam belajar.

Salam.

Jumat, 12 Januari 2018

Memasak (Kembali) sebagai Hikmah dari Ibu Sakit

Hai, my blog. Aahhhh lama sekali tidak bersua. Padatnya pekerjaan kantor membuat aktivitas menulis haha hihi semakin berkurang. Belum lagi kalau harus lembur atau liputan di kala akhir pekan. * ah alasan *

Lagi di rumah. Ibu sakit. Pergelangan tangannya terkilir, dan nggak bisa –juga karena nggak boleh- beraktivitas apapun untuk sementara waktu ini. Tapi, tak ada kejadian apapun di muka bumi ini yang nirhikmah, bukan? Termasuk, aku yang -mau nggak mau- harus masak setelah entah berapa lama tak melakukan aktivitas ini. * ya Tuhan perempuan macam apa ini L *

Eh, dua minggu lalu, juga karena di rumah, aku kembali memasak. Setelah sebelumnya, sekitar lima bulan yang lalu aku harus masak untuk Ami sebab aku membuatnya jatuh, jahit di kaki, dan dia yang nggak bisa melakukan aktivitas berat.

Well, hari ini, atas panduan ibu, aku masak sayur bening dan lauk dadar jagung. Aku akan membagi resep itu di sini. Bukan apa-apa. Aku pelupa, juga karena aku malas untuk mencacat di buku. Dan, agar supaya, blog ini bisa kukunjungi lagi nanti ketika aku sudah menikah dan harus masak sendiri. Uwuwuw. Mudah-mudahan bisa rutin nulis di blog tentang resep masakan, yaa. Hehehe.

  • Sayur bening

Membuat sayur bening itu menyesuaikan selera jenis sayur apa yang akan digunakan. Ibu bilang ini namanya sayur kunci, karena ketika memasak menggunakan rempah kunci. Setelah pergi belanja, sayur yang kemudian kupilih adalah bayam dan jagung manis.

Bahan: jagung manis, sayur bayam, tomat, rempah kunci, bawang merah, bawang putih, garam, gula putih, dan penyedap rasa.

Cara memasak: rebus air untuk kuah, masukkan bawang merah, putih, kunci yang sudah digeprek/diiris halus, tambahkan garam dan gula. Setelah mendidih, masukkan potongan jagung manis. rebus hingga kira-kira jagung matang. Lalu, masukkan sayur bayam. Tambahkan irisan tomat dan penyedap rasa. Incipi. Selesai.



  • Dadar jagung

Di rumah, di Blitar, ibu dan orang-orang biasa menyebut makanan ini dengan nama pergedel. Padahal kalau di Surabaya, perkedel itu macam-macam, tergantung bahan dasarnya. Kali ini, karena bahan dasarnya jagung, jadilah perkedel jagung atau biasa disebut dadar jagung.

Bahan: jagung manis, daun bawang, seledri, bawang putih, merica bubuk, telur ayam, tepung beras, garam, gula putih, penyedap.

Cara memasak: serut/iris tipis jagung manis, campur dengan bawang putih, merica bubuk, dan garam yang sudah dihaluskan. Campurkan irisan daun bawang dan seledri. Tambahkan telur ayam, tepung beras, dan air secukupnya. Campur semua bahan hingga menjadi adonan yang siap untuk digoreng. Selanjutnya, goreng adonan dengan porsi atau bentuk sesuai selera. Done. Siap disajikan.


Karena lama sekali nggak masak, sementara ini dulu ya resep yang dibagi. * gaya banget padahal belum bisa masak yang neko-neko *

Aku sebetulnya menyukai aktivitas memasak, berkebun, menata ruang dengan bunga dan tanaman. Namun apa daya, aktivitas pekerjaan di kota besar menyebabkan kesempatan untuk hal-hal menyenangkan itu masih sebatas angan-angan. Semoga bisa melakukan aktivitas-aktivitas itu suatu hari nanti, ya. Amiin.


P.S

Tulisan ini sebetulnya diketik seminggu yang lalu. Namun karena berbagai alasan baru sempat post sekarang :(

Selasa, 29 November 2016

Napak Tilas Bersama Bapak



Di tempat inilah, 48 tahun silam, seorang anak laki-laki usia 12 tahun ngangsu kawruh, menghilangkan segala kebodohan dengan mondok di pondok pesantren salaf. Pondok pesantren terkemuka waktu itu yang terletak di Rowo Tengah, salah satu desa di kecamatan paling barat Kabupaten Jember, pintu masuk Kabupaten Jember dari arah Lumajang.

Seorang bapak hebat bahkan tak lulus sekolah dasar, mengajak putra putrinya yang telah menempuh pendidikan tinggi untuk sowan. Kiyai memang telah tiada dan pondok telah sepi tak berdiri sekokoh dulu. Sebagian besar bangunan pun telah rusak.

Namun baginya, silaturahim kepada keturunan kiyai serupa wujud syukur atas ilmu-ilmu yang didapat, mempererat ikatan antara santri dan yai, memanjangkan usia. Kiyai adalah orang-orang terpilih. Seperti keyakinan Bapak, maka keturunan kiyai adalah orang-orang yang memiliki nasab bagus. Segala doa dan pengharapan dititipkan untuk mendapatkan barokah-Nya.

Bapak mengajak kami ziarah. Menelusuri setiap jalan dan lorong yang masih tak berbeda jauh dari 48 tahun silam. Saya pun tak kuasa membayangkan, di salah satu pojok bangunan pondok, Bapak biasa ndelik, agar makanan yang ia makan tak sampai ketahuan siapapun. Makanan hasil ngasak di sawah, seringkali adalah sisa polo pendem yang sudah dibuang pemanennya.

Bapak selalu bercerita dengan bangga dan tak ada gurat sedih di wajahnya.

Sebab zaman itu, tak banyak uang saku yang diberikan kakung dan simbok untuk bekal Bapak berangkat mondok. Selama tujuh tahun mondok, hanya satu kali dalam setahun ia pulang. Ia berangkat membawa karung berisi beras, dan uang yang hanya cukup untuk bekal makan beberapa bulan saja. Sisanya, Bapak mesti memikirkannya sendiri.

Barangkali telah belasan kali bapak katakan kepada anak-anaknya, "Bapak selalu berdoa agar kelak, jangan sampai anak-anak Bapak merasakan sulitnya mencari ilmu seperti yang pernah Bapak alami".

Sayang selalu, Bapak.

Senin, 31 Oktober 2016

Jadi Jurnalis UNAIR Bertemu Banyak Tokoh Hebat



Menjadi jurnalis sebuah media yang dikelola oleh Humas kampus adalah hal yang menyenangkan sekaligus seringkali memberikan kejutan bagi saya. Selain bisa menyalurkan ilmu dalam bidang jurnalistik, saya banyak bertemu dengan tokoh-tokoh hebat yang sudah belasan bahkan puluhan tahun malang melintang dalam dunia pendidikan, berbincang, dan menyelami pikiran-pikiran mereka.

Bagi saya, bekerja di media adalah hal yang menyenangkan. Selain bertemu dengan narasumber yang berbeda tiap harinya, saya menjadi banyak tahu mengenai perkembangan isu-isu terkini, khususnya bidang-bidang yang dikaji dalam dunia pendidikan. Saya banyak bertemu dosen, mulai dari yang bergelar doktor hingga profesor. Bidang keilmuan merekapun beragam, mulai dari kesehatan, teknologi, hukum, ekonomi, politik, hingga seni dan sastra.

Apalagi saat ini, dalam rangka menuju perguruan tinggi kelas dunia, Universitas Airlangga tengah getol melakukan branding. Media sebagai salah satu alat branding universitas, bertugas untuk menggali dan mengeksplor beragam kegiatan yang dihasilkan oleh para stakeholder. Bukan hanya civitas, namun juga alumni serta tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dengan UNAIR.

Yang paling menarik serta membuat saya selalu antusias adalah ketika bertemu dengan public figure atau tokoh masyarakat yang diundang ke UNAIR untuk berbagai acara. Whoaaaa, saya selalu memanfaatkan momen ini untuk menggali informasi lebih dalam dan mendapatkan suntikan motivasi dari mereka.

Universitas Airlangga sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, banyak meluluskan alumni yang saat ini berpengaruh di masyarakat. Baik sebagai public figure, tokoh politik, pejabat publik, maupun pebisnis yang tentunya keberadaan mereka banyak membawa pengaruh bagi masyarakat. Bekerja di Humas UNAIR, banyak memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan mereka.

*******

Di awal-awal saya menjadi jurnalis di Humas UNAIR, saya bertugas untuk meliput acara penyambutan mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Biasanya, acara penyambutan mahasiswa baru selalu diisi dengan menghadirkan ‘bintang tamu’, alumni yang cukup dikenal di masyarakat. Sebab, mahasiswa baru butuh suntikan semangat agar mereka, setidaknya memiliki gambaran tentang profil alumni di jurusan yang mereka pilih.

Waktu itu, Departemen Sastra Inggris Universitas Airlangga menghadirkan John Martin Tumbel, lulusan terbaik Fakutas Sastra (sekarang FIB) tahun 2005. Meski sempat deg-degan, namun saya senang di akhir acara bisa berbincang dengan aktor yang karib disapa John Pantau itu. Ia sangat ramah. Dan khas presenter, ia pandai mencari topik dan menyita perhatian para pendengarnya.

John Martin Tumbel selepas memberikan motivasi kepada mahasiswa baru Sastra Inggris 2015


Pada bulan Mei 2016 silam, setelah berkali-kali membuat janji namun selalu gagal, akhirnya saya berhasil bertemu dan berbincang dengan Putri Indonesia tahun 2014, Elvira Devinamira. Yup, gadis jelita yang memperoleh Best National Costume pada ajang Miss Universe 2014 ini, masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Elvira Devinamira, Putri Indonesia 2014, Mahasiswa FH UNAIR


Saya bertemu dan berbincang dengannya di Fakultas Hukum UNAIR selepas ia mengikuti kuliah Hukum Arbitrase. Meski hari-harinya kini banyak dihabiskan dengan berkarir di bidang entertainment dan modelling, namun ia berkeinginan untuk segera lulus dan meraih gelar sarjana hukum tentunya. Maka itu ia masih sering menjalani kegiatan akademik di kampus, baik megikuti perkuliahan maupun mengurus skripsi sebagai salah satu prasyarat kelulusan.

****

Saya berkesempatan berbincang dengan Fadly usai dia mengisi seminar bertema lingkungan di UNAIR. Saya baru tahu, dalam lima tahun terakhir, ia menjadi aktivis urban farming, mensosialisasikan hidup sehat dengan tetap mengkonsumsi buah dan sayur, dan menanamnya sendiri meski dalam lahan sempit di perkotaan.

Kedatangannya di UNAIR seakan mengajak saya bernostalgia dengan masa-masa SMP ketika saya begitu menyukai lagu-lagunya bersama Padi. Selepas acara, ia membawakan lagu Kasih Tak Sampai dan mengajak para peserta bernyanyi bersama. Katanya, “Ini lagu buat teman-teman yang pernah merasakan patah hati,” ucapnya yang disambut riuh penonton.

Waktu berbincang ia bercerita, di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga lah, ia bertemu dengan rekan-rekan yang kemudian bersamanya menapaki berkarir dalam blantika musik bersama grup band Padi. Termasuk di FE UNAIR (sekarang FEB) ia bertemu dan banyak bertukar pikiran perihal musik dengan musisi Ari Lasso.

Fadly 'Padi' alumnus Fakultas Ekonomi UNAIR

Selanjutnya, salah satu alumnus UNAIR yang masih berkesan dalam ingatan saya adalah Menteri Perhubungan RI tahun 2014-2016 yang kini menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Bapak Ignasius Jonan. Ketika itu, beliau datang ke Universitas Airlangga dalam rangka memberi motivasi kepada mahasiswa baru 2016.


Saya sempat melakukan wawancara singkat dengan beliau. Dan yang paling saya ingat hingga saat ini adalah pesan beliau kepada mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan. Katanya, “Jangan mengerjakan sesuatu yang tidak perlu. Dan jangan kebanyakan pacaran,” ucapnya sambil tertawa. Saya pun ikut tertawa.
Ignasius Jonan, alumnus Fakultas Ekonomi UNAIR
Sepanjang saya menekuni pekerjaan saya sebagai jurnalis di Humas UNAIR, barangkali Bu Khofifah Indar Parawansa adalah satu-satunya pembicara tamu, seorang menteri, yang begitu atraktif melakukan interaksi dengan mahasiswa. Yang paling saya ingat, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR itu mengajak seluruh mahasiswa untuk menyanyikan Hymne Airlangga. Di situlah, tanpa saya duga sebelumnya, beliau menitikan air mata ketika menyanyi bersama-sama seluruh mahasiswa.

Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial RI, alumnus FISIP UNAIR

Tak berhenti sampai di situ, keramahannya kepada mahasiswa ia tunjukkan dengan naik ke tribun didampingi Bapak Rektor UNAIR Moh Nasih untuk menyapa mahasiswa. Ia pun tak keberatan melayani foto bersama mereka.

****

Selain bertemu tokoh-tokoh nasional, acara-acara yang diadakan mahasiswa dengan mengundang band atau musisi adalah yang menarik bagi saya. Saya bisa masuk gratis tanpa membeli tiket, bisa memotret, dan menikmati acara hingga selesai. Bonusnya lumayan untuk saya bisa berbincang dengan para pemain musiknya. Hehe.


Payung Teduh live in UNAIR

Saya juga merasa beruntung bisa mengikuti rangkaian KKN Tematik mahasiswa internasional yang diadakan di Karimunjawa. Selama tiga hari, saya berkesempatan untuk mengikuti rangkaian kegiatan mereka, termasuk jalan-jalan mengunjungi keindahan Kepulauan Karimunjawa.

Mengikuti rangkaian kegiatan KKN bersama mahasisaw internasional 

So far, menjadi bagian dari tim yang bertugas di Humas UNAIR memberi saya banyak pengalaman, pelajaran, dan ilmu baru. Untuk teman-teman yang tertarik dengan segala kegiatan dan informasi seputar Universitas Airlangga, bisa mengakses laman resmi kami di http://www.unair.ac.id/ .

Sabtu, 29 Oktober 2016

Taksi Online vs Taksi Konvensional



 
Sabtu malam, sekitar pukul 22.00, kami sudah berdiri di depan salah satu pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Kami baru selesai menghabiskan waktu diantara tumpukan diskonan buku dan menutupnya dengan makan malam dan ngeskrim bersama. Beberapa menit sebelumnya, melalui aplikasi yang mudah kami akses dengan handphone, kami memesan ‘taksi online’ untuk mengantar kami pulang ke tempat kos. Maka setelah pemesanan, kami tinggal berdiri menunggu driver datang untuk menjemput.

Di ruas jalan berbeda masih di tempat kami berdiri, berbagai jenis taksi konvensional berjejeran. Dari penglihatan saya, mereka terlihat sepi pemesan dan beberapa kali ngedumel antara sesama driver. Betapa tidak, diantara mobil yang melakukan penjemputan, bisa ditebak sebagian besar adalah ‘taksi online’ pesanan. Ini jelas mematikan pasar mereka para driver taksi konvensional.

Layaknya mobil pribadi, dengan ‘taksi online’ kami tak perlu banyak melakukan negosiasi atau percakapan basa basi dengan driver. Mobil datang, kami naik, dan driver pun siap mengantar pulang sesuai alamat tujuan yang telah kami pesan melalui aplikasi. Sangat menarik, bukan? Memang.

Masalah harga jangan ditanya. Tempat indekos menuju pusat perbelanjaan tempat tujuan kami berjarak sekitar 3.5 kilometer. Cukup jauh. Apalagi, minggu malam di Surabaya adalah waktu dimana kemacetan melengang dimana-mana. Dengan perhitungan itu, kami mesti memikirkan banyak uang yang harus kami keluarkan berdasarkan jarak dan waktu yang kami tempuh jika kami menggunakan taksi konvensional. Melalui ‘taksi online’, dengan jarak dan tentunya kemacetan itu, sewaktu berangkat kami hanya mengeluarkan uang enam ribu rupiah saja.

Maka, berbagai kemudahan layananpun diberikan. Diskonan bertebaran. Di JX International Surabaya, tempat event discount buku Big Bad Wolf yang menggiurkan hingga tanggal 31 Oktober itu, maka bisa dilihat pada struk perbelanjaan. Ada promo 50 persen yang ditawarkan dengan menggunakan kode promo tertentu. Ini jelas layanan menggiurkan yang ditawarkan perusahaan.

Sementara itu beberapa minggu yang lalu, dalam sebuah berita online Bapak Menteri Perhubungan meminta taksi konvensional untuk pindah ke online. Langkah ini dikatakannya untuk meringankan beban operasional perusahaan. Mengingat, respon masyarakat sangat antusias dengan layanan ‘taksi online’.

Maka di era gigital ini, mau tak mau, kita diajak untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada. Masyarakat pun tak mau rugi. Mereka sudah pintar untuk memilih layanan yang dirasa paling memberi keuntungan. Pelayanan yang mudah, murah, dan tentunya nyaman. Maka tentu, siapa yang bisa menyediakan layanan ketiganya, ialah yang akan dipilih.