Minggu, 04 Februari 2018

Saya Mungkin Ngotot dan Keras Kepala

Sumber gambar: Pixabay


Kemari lusa, ketika masih di rumah, saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaaan kebutuhan pokok tak begitu jauh dari rumah. Sambil menunggu kasir menghitung belanjaan, sesekali saya tolah-toleh memerhatikaan sekeliling. Di dalam toko, agak jauh dari tempat saya berdiri, saya memerhatikan seorang laki-laki memanggul barang dengan karung di atas pundaknya.

Dia memakai celana tiga perempat kaki. Kausnya lusuh. Dia terlihat begitu lelah. Ada yang tak asing. Setelah saya pehatikan betul, ternyata dia seumuran saya, laki-laki yang ketika saya duduk di bangku SMP kira-kira sebelas tahun yang lalu, paling jago di kelas dalam hal mata pelajaran.

Entah apa yang saya pikirkan sore itu. Yang jelas saya nelongso betul.

Kejadian seperti ini dengan orang yang berbeda tidak hanya saya alami sekali ini saja. Ada juga teman perempuan yang juga pernah satu kelas semasa kelas tujuh SMP. Ia, kini juga juga bekerja di salah satu toko kebutuhaan pokok tak begitu jauh dari rumah.

Saya masih ingat betul. Meskipun rumahnya jauh di bawah kaki Gunung Kelud sana, tapi untuk hal pelajaran dia tak bisa diragukan. Apalagi perihal menghapal rumus-rumus. Soal ilmu pengetahuan  alam yang waktu itu sudah mulai mempelajari fisika dan kimia, saya cuma bisa plonga-plongo berkali-kali ujian dan dia mendapatkan nilai yang nyaris sempurna.

Saya jadi teringat kembali tujuh tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Khawatir akan nasip saya usai lulus, ibu bahkan sudah ancang-ancang memilih jodoh untuk saya. Mungkin, kalau saya tak ngengkel kuliah waktu itu, saya tidak bisa duduk di depan komputer seperti pagi ini. Juga pacar saya waktu itu, yang tak menghendaki jika saya melanjutkan pendidikaan di luar kota. (maaf, tahun itu saya khilaf hehe)

Lantas, banyak hal berubah dan segala hal memang harus diperjuangan.

Kalau di semester delapan saya tidak ngengkel mengambi tawaran pekejaan di tempat kini saya bekerja, belum tentu saya masih ada di Surabaya. Padahal saat itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa aktif yang menanggung skripsi. Menjelang ujian, bu dosen pembimbing cuti haji dan kuliah saya terancam  molor.

Yang saya pikirkan waktu itu hanyalah: kalau saya tidak mengambil tawaran pekerjaan, mau makan apa? Bayar kos dan kuliah pakai uang siapa? Wong beasiswa full dari pemerintah yang saya dapatkan tidak menanggung biaya kuliah yang tak selesai tepat waktu.

Dari bangku kuliah perlahan saya tahu, fungsi pendidikan adalah memberantas kebodohan, menghilangkan ketidaktahuan. Hingga, manusia jadi paham untuk apa ia diciptakan. Jika lantas pendidikan pengantarkan seseorang menemui pekerjaan yang layak, itu bonus atas apa yang ia perjuangkan.

Dengan membagi ini, bukan berarti hidup saya jauh lebih enak dan bahagia bibanding teman yang saya jumpai kemarin sore. Bisa jadi, untuk urusan menata hati dan kebahagiaan, dia lebih hebat dari saya. Bisa jadi, ia memiliki istri yang cantik dan soleha, serta anak yang menggemaskan, manis dan pintar.


Saya hanya percaya, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang ngengkel dan mau berusaha lebih keras dari yang lain. Memperjuangkan banyak hal, bukan hanya pendidikaan, pekerjaan, tapi juga jodoh.

5 komentar:

  1. Hallo Selamat pagi,
    Salam hangat, Perkenalkan kami perusahaan yang bergerak di bidang IT dan Jasa pemasangan serta Maintenance semua kamera CCTV indoor dan Outdoor (sesuai kebutuhan) yang berkantor di Jakarta Timur.
    Website : https://www.hebros.co.id
    Email : support@hebros.co.id

    BalasHapus
  2. mau berjuang keras untuk siapa kali ini ? *sambil senyum ala milea

    -princess

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu komen gini aku jadi ngga sabar entar malam nonton Dilan, pulang lalu bikin review, dan menjalani hari-hari dengan bahagia lantaran suntikan motivasi hidup remeh temeh ala Dilan dan Milea.

      Hahahaha

      Hapus
  3. untung dulu waktu ditawarin kerja di PENS nggak ngeyel buat nerima karena keadaan. Kalau waktu itu tak terima, mungkin sekarang enggak menetap di Blitar :D

    BalasHapus