Rabu, 25 April 2012

Polemik Pendidikan Indonesia


Berbagai Permasalahan Pendidikan di Indonesia serta Peran Mahasiswa sebagai Generasi Penerus Bangsa
Indonesia adalah termasuk salah satu negara yang memiliki banyak perguruan tinggi dan banyak mahasiswa di dalamnya. Tenaga pengajarpun juga sudah memadai, walaupun terkadang kualitasnya masih kurang dari yang diharapkan. Apalagi dengan program baru dari pemerintah mengenai pengadaan sertifikasi bagi pengajar di Indonesia, menambah daftar panjang profesi yang dahulunya dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Namun hal itu tidak serta merta membuat pendidikan Indonesia berjalan sempurna.
Sejak tahun 2009, pemerintah menganggarkan 20% dari APBN untuk dialokasikan pada sektor pendidikan. Dana dari pemerintah yang dianggarkan khusus untuk memajukan pendidikan di Indonesia tersebut, nyatanya masih perlu dipertanyakan lagi perihal transparansinya. Sebab, hingga kini menginjak tahun 2012, masih juga sering kita dengar berbagai permasalahan pendidikan terjadi di negeri ini. Mulai dari infrastruktur gedung pendidikannya yang tidak layak pakai, hingga masih pula terdengar pemungutan biaya bagi siswa-siswi terjadi di berbagai instansi pendidikan sekolah menengah di negeri ini. Sesungguhnya sudah benar-benar dialokasikan dengan benarkah 20% dana tersebut? Padahal sudah mulai terdengar bahwa perguruan tinggi negeri mulai terbuka dalam menerima mahasiswa dan lebih mementingkan prestasi daripada pemungutan biaya-biaya yang memang tidak sedikit. Banyak pemuda dari daerah-daerah dengan latar belakang ekonomi yang rendah berhasil menempuh perguruan-perguruan tinggi negeri terkemuka di negeri ini.
Masalah lain pada pendidikan di Indonesia adalah undang-undang pendidikan atau kurikulum yang sering direvisi. Ketika kurikulum baru menapaki jalannya dan belum terlihat jelas hasil yang diinginkan, kurikulum tersebut sudah menyusul diubah lagi, begitu seterusnya. Pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah, seharusnya memiliki konsistensi. Kalaupun terjadi pergantian pembuat kebijakan, tidak seharusnya mengabaikan kesinergian antara pembuat kebijakan lama dengan pembuat kebijakan baru yang kemudian akan berperan. Selain itu, yang harus lebih diperhatikan adalah adanya komitmen dan konsistensi antara pembuat kebijakan dan penyelenggara atau pihak pemakai produk pendidikan. Sehingga akan tercapai tujuan bersama yang diharapkan.
Indonesia adalah negara yang syarat akan seni dan kebudayaan yang amat tinggi. Bassic ini sudah kita miliki sejak nenek moyang kita masih ada. Sesungguhnya pendidikan seni, minat bakat, dan budayalah yang tak kalah harus dikembangkan lagi disamping pendidikan keilmuan. Jika kita perhatikan, entah diakui atau tidak, semakin lama masyarakat semakin melupakan jati diri bangsa ini. Sehingga sering muncul celoteh ‘bangsa ini tengah mengalami krisis kebudayaan’. Terkadang kita terlalu malu atau lebih halusnya kurang percaya diri terhadap kebudayaan yang kita miliki. Sebagai dampak negatif dari globalisasi, kita latah dan lebih senang mengikuti perkembangan dan mode yang tengah digandrungi masyarakat internasional. Tak jarang pula kita dengar justru orang dari luar negaralah yang mempunyai keinginan tinggi untuk mempelajari berbagai budaya dan seni di Indonesia. Memang, kita patut berbangga. Namun disisi lain pertanyaan yang perlu di garis bawahi adalah sebegitu besarkah keinginan kita untuk mempelajari kebudayan mereka, atau taruhlah kebudayaan kita sendiri? Mungkin kita justru melalaikannya.
Seperti yang nampak baru-baru ini, ketika negara lain mengklaim budaya kita, kita baru sadar dan kemudian ramai berbondong-bondong ikut menyuarakan kebudayaan yang dikalim tersebut. Kemana saja kita ketika mereka dengan getol mempelajari budaya kita? Lebih jelas, kita seperti tengah kehilangan arah.
Disisi lain ada generasi yang patut diperhitungkan di nereri ini. Merekalah mahasiswa. Mahasiswa merupakan generasi bangsa yang memiliki ide-ide yang masih segar dan cemerlang. Namun, salah satu masalah yang kemudian muncul adalah ketika seorang mahasiswa telah merampungkan pendidikan dan selanjutnya mereka siap untuk bekerja ataupun terjun langsung mengabdi kepada masyarakat, mereka tidak kembali pada daerah dimana mereka berasal. Mereka lebih senang mengembangkan karir di kota. Sebagai contoh adalah seorang yang berhasil menempuh studi di fakultas pertanian. Kebanyakan dari mereka, setelah lulus justru tidak mau kembali ke daerah, bergabung dengan para petani yang ada disana, dan membagi ilmu atau memberikan solusi baru terhadap permasalahan yang dihadapi oleh para petani. Akibatnya, meskipun ilmu tentang pertanian di pelajari, namun prakteknya pada kehidupan nyata adalah nihil. Padahal mereka para mahasiswa, berpeluang besar untuk lebih memajukan daerah mereka.
Berbagai permasalahan tersebut harusnya menjadi cermin bagi kita semua, masyarakat dan juga pemerintah untuk sama-sama menyadari, karena semuanya pada akhirnya mengarah pada satu tujuan yang mulia, yaitu membangun bangsa ini.
Sebagai agen of change, penting membangun karakter mahasiswa yang nantinya benar-benar bisa menjadi pemimpin yang benar tahu apa kebutuhan dari masyarakat. Selain itu, mahasiswalah yang sepatutnya mampu  menjembatani keinginan atau aspirasi dari masyarakat. Mahasiswalah yang kemudian mampu menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang nantinya menjadi besar manfaatnya untuk kehidupan masyarakat.
Penanaman moral sejak dini menjadi salah satu faktor yang tak kalah penting. Sebab, kecerdasan spiritual justru akan menjadi momok yang paling menakutkan untuk bangsa ini ketika tidak diimbangi dengan kecerdasan mental atau moral yang memadai. Kita tidak akan menjadi manusia yang bangga menggembungkan kantong pribadi, seperti yang tengah melanda negeri ini, jika kecerdasan moral tersebut kita miliki. Oleh karena itu, penting untuk menjadi manusia-manusia Indonesia yang sehat mental, jujur, dan memiliki hati yang lapang untuk mampu berjuang demi bangsa ini.

Minggu, 22 April 2012

aku rindu


Aku rindu duduk santai ngopi denganmu, saat aku bisa mengoceh tentang apapun. Atau, saat terkadang jantungku berdebar dan aku kebingungan mencari topik yang akan kita bicarakan lagi . Atau lagi, saat kau mengantarkanku pulang dan kita harus memutari jalan lagi karena malam masih terlalu indah untuk dilewatkan. Saat kau benar harus mengantarku pulang, itu adalah saat yang paling aku benci. Cepat sekali jam berputar.
Aku rindu berlama-lama disampingmu. Menemanimu mengantar pesanan pelanggan, itu belajar mencari uang dan mencoba bersentuhan dengan hidup yang keras katamu. Aku rindu makan nasi bungkus denganmu, belajar bertutur Jawa dan mengganti kata terimakasih dengan maturnuwun ketika kau selesai membayar pesanan makan kita. Aku rindu saat-saat kamu bilang, “Kunti, kamu beol ta? Lamaa..”
Aku rindu berdebat denganmu. Aku rindu memancing emosimu, dengan mengatakan persmu itu hanya organisasi yang amdo alias omong doank. Berdebat tentang itu adalah yang paling menguras otakku.
Tapi terkadang senyummu mengandung kelicikan. Aku tak suka itu..
Lalu, apa kini aku tidak konsisten?? Ah, persetan dengan semua itu..

surabaya, April 2012

Kamis, 19 April 2012


aku tak bisa berkata-kata indah

aku ingin seperti embun di pagi hari
tak pernah mengeluh barangkali
kesetiannya mampu memberi ksejukan
bahkan bisa jadi ia sudah seperti angin bagi ranting dan dedaunan
indah bukan..

malam ini aku tak bisa tidur
Surabaya terlampau panas hari ini
Hingga pendingin kamarku kurasa tak berfungsi lagi
apa yang salah hari ini??
Cuaca?? Atau memang kondisi tubuhku saja?

untu penghilang pahit lidah, ku putuskan untuk membuat kopi saja. Ya, kopi.
ah.. aku jadi teringat seorang lelaki
ah.. aku jadi makin teringat lagi
kini kupindah posisiku
aku berfikir galau di depan kamar kostku
kupandangi apapun yg nampak dihadapanku
handphone, segelas kopi, pot2 bunga,
mangga2 hijau milik tetangga depan rumah,
laki-laki yang baru pulang mendorong gerobak jualannya,
tikus-tikus Surabaya yang menjijikkan itu, namun unik kataku
ini mataku yang buram apa memang langit berwarna orange malam ini
entahlah..
sambil aku menggerutu, banyak sekali nyamuk-nyamuk yang ngantri ku bantai..

seperti seorang filsuf barangkali
Kata hatikupun tak pernah benar-benar jadi
Seperti tulisanku ini, sudah berapa kali kubackspace, kutulis lagi, kubackspace lagi, kutulis lagi..

haha.. ingin kutertawakan semua ini
Kalau aku melakukannya, tak akan ada bedanya aku dengan aku setahun yang lalu
Ya, bukan karna apa dan siapa, aku percaya begitu saja
Seperti yang pernah dibilang seorang lelaki diluar sana
Itu resiko, saat kamu mampu melewatinya, satu poin menang untukmu
dan aku tak pernah menyesalinya
 
Senyumku jadi penuh tanya
‘kamu laki-laki’
:D

                                                                                                Surabaya, April 2012

Selasa, 03 April 2012