Selasa, 08 Mei 2018

Tak Kenal Budaya Marung

Masakan rumahan. Sumber: Google.

Sore tadi aku makan di kos. Sambil nyeruput kuah sayur bening lauk tongkol, aku mbatin, “Iya ya. Kenapa tadi nggak makan di warungnya aja ya?”

Hari ini aku nggak ngantor. Selain karena kurang enak badan akibat boyok’en, ingin menikmati selonjoran di kos sambil leha-leha. Meski puluhan pesan Whatsapp tak terelakkan akibat kantor yang lagi hectic-hectic-nya.

Setelah mbungkus makan dari warung Buk Mar, pulang dan makan di kos. Padahal, warung Buk Mar mepet banget sama kos. Kok ya sempatnya aku ganti baju, mbungkus makan, lalu pulang lagi untuk makan. Kenapa nggak sekalian makan di sana aja, coba.

Bisa jadi ini alam bawah sadar akibat tradisi di rumah.

. . .

Aku dibesarkan di tengah keluarga yang nggak punya tradisi marung, makan di warung. Hingga umur 25 tahun ini, kalau tidak salah ingat, belum pernah aku makan bersama bapak ibu di sebuah warung dengan sengaja.

Bapak membiasakan kami sekeluarga untuk menjalankan sholat fardhu berjamaan di rumah. Sehingga, hampir tidak pernah, kami menjalankan sholat di luar rumah. Kecuali saat-saat tertentu dalam acara sekolah atau keluarga, misalnya.

Sementara ibu, mendidik kami untuk tidak makan di luar rumah. Ia selalu bertanya “Makan dimana tadi?” ketika kami pulang rumah terlambat. Entah bagaimana Ibu selalu ‘memantau’ dimana kami makan.

Akupun masih ingat. Saat usia sekolah, tidak boleh nenteng tas sebelum sarapan. Maka itu, meski sudah usia SMA, ibu masih saja suka ndulang (baca: nyuapi) anak-anaknya. Pun, keluar rumah sebelum jam makan siang dan kembali melebihi waktu sholat maghrib, hampir mustahil kami lakukan. Makan seakan menjadi waktu Ibu untuk mengabsen kami.

Aku jadi ingat, waktu itu ibu pun ngasih uang saku ngepres. Sehingga kalau makan di luar rumah, sudah bisa dipastikan kami nggak bisa jajan. Belakangan ketika mulai merantau aku baru tahu bahwa tak semua teman-teman merasakan hal ‘beruntung’ itu.

Tahun berganti tahun. Rupanya, kebiasaan 'nggak pernah marung' itu belum sepenuhnya hilang. Hampir 7 tahun hidup di Surabaya dengan kos tanpa dapur, alih-alih makan enak di warung tanpa ribet cuci piring, aku lebih suka mbungkus dan makan di kos. Padahal yaa, di kos juga makan sendirian.

(*)