Kita pernah pergi
Tapi bagaimanapun hangatnya jalanan,
aku selalu ingin pulang,
dipelukmu dalam-dalam
Untuk itulah aku tak bisa berhenti mencintaimu
Aku tak bisa mengungkapkannya manis-manis
Aku sedang gila
Tapi kau harus tau, aku mencintaimu
Kau harus tau, sebelum aku lupa cara untuk mengungkapkannya
Aku tak akan bilang aku takut, sayang
Bagaimana mungkin kita takut pada hal-hal yang telah pasti??
Mungkin kita akan terbunuh dan mati perlahan
Tapi kau harus tau, aku mencintaimu
Minggu, 11 Januari 2015
Senin, 05 Januari 2015
Diamlah!!
Kita akan duduk di bawah trembesi itu.
Memandang keramaian,
kanak-kanak yang tertawa-tawa berlarian berkejaran.
Kita ada di sana.
Akan menjawab semua tanya bahwa lelah tak akan terjawab degan perjumpaan yang manis-manis.
Begitupun aku.
Kita duduk lama-lama,
tapi tak akan banyak yang kita lakukan disana
: kau lelah.
Pergi dari lelaki satu dan lari dengan lelaki yang lain hanya akan mematikanmu.
Tenanglah. Diamlah. Rasakan kelunya.
Memandang keramaian,
kanak-kanak yang tertawa-tawa berlarian berkejaran.
Kita ada di sana.
Akan menjawab semua tanya bahwa lelah tak akan terjawab degan perjumpaan yang manis-manis.
Begitupun aku.
Kita duduk lama-lama,
tapi tak akan banyak yang kita lakukan disana
: kau lelah.
Pergi dari lelaki satu dan lari dengan lelaki yang lain hanya akan mematikanmu.
Tenanglah. Diamlah. Rasakan kelunya.
Sabtu, 27 Desember 2014
Bisakah kita berkenalan (kembali) ??
Bisakah kita berkenalan (kembali)??
Aku ingin jatuh cinta padamu di tempat-tempat yang kutentukan.
Kedai kopi, pameran buku, galeri seni.
Bisakah kita berada di sana tanpa sengaja, dan, kita saling menyapa?
Aku akan berkenalan denganmu dengan baik. Sangat baik.
Bisakah?
Perasaanku pasti akan sangat ramai ketika itu.
Ramai. Seperti pasar malam.
Atau, bisakah kita tiba-tiba ada di sana, sekarang? Di pasar malam.
Bisakah?
Blitar, Desember 2014
Aku ingin jatuh cinta padamu di tempat-tempat yang kutentukan.
Kedai kopi, pameran buku, galeri seni.
Bisakah kita berada di sana tanpa sengaja, dan, kita saling menyapa?
Aku akan berkenalan denganmu dengan baik. Sangat baik.
Bisakah?
Perasaanku pasti akan sangat ramai ketika itu.
Ramai. Seperti pasar malam.
Atau, bisakah kita tiba-tiba ada di sana, sekarang? Di pasar malam.
Bisakah?
Blitar, Desember 2014
Sabtu, 13 Desember 2014
Media yang baik harus memihak: memihak pada kebenaran
Secara pribadi, saya tidak setuju dengan pernyataan “sebuah media harus netral, tidak memihak”. Karena media memiliki kuasa untuk menggiring opini publik. Pernyataan tersebut akan menjadi bumerang ketika mendapati sebuah masyarakat yang akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan pemimpin baru.
Bagaimana ketika media tengah dihadapkan pada pilihan dua calon; si A yang ‘baik’, dan si B yang ‘kurang baik/buruk’. Apa media akan membiarkan masyarakat memilih si B dan membiarkan negara api menyerang :-D ? Atau menggiring masyarakat agar memilih si A? (Jika memang kita (media) memiliki tujuan bersama yang baik, demi kemaslahatan umat dan demi perubahan yang lebih baik)
Media yang baik harus jujur: memberitakan hal-hal yang baik tanpa menutup-nutupi (jika memang terdapat) keburukan. Biarkan masyarakat yang memilih dan menentukan. Media yang baik berpihak pada kebenaran. Bukan berpihak atas nama percukongan.
… dan, definisi kebenaran adalah jelas; sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah. Bukan kebenaran versi media A, kebenaran versi media B, dan seterusnya.
Bagaimana ketika media tengah dihadapkan pada pilihan dua calon; si A yang ‘baik’, dan si B yang ‘kurang baik/buruk’. Apa media akan membiarkan masyarakat memilih si B dan membiarkan negara api menyerang :-D ? Atau menggiring masyarakat agar memilih si A? (Jika memang kita (media) memiliki tujuan bersama yang baik, demi kemaslahatan umat dan demi perubahan yang lebih baik)
Media yang baik harus jujur: memberitakan hal-hal yang baik tanpa menutup-nutupi (jika memang terdapat) keburukan. Biarkan masyarakat yang memilih dan menentukan. Media yang baik berpihak pada kebenaran. Bukan berpihak atas nama percukongan.
… dan, definisi kebenaran adalah jelas; sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah. Bukan kebenaran versi media A, kebenaran versi media B, dan seterusnya.
Rabu, 03 Desember 2014
Catatan Sejarah Kita, Tentang Wilayah yang Pernah Menjadi Bagian dari Negara Kita, Timor Timur: Disembunyikan!!
Selama 15 tahun,
terhitung sejak 1999, adakah bagian dari sejarah kita yang menyebutkan bahwa
telah terjadi pelanggaran HAM besar-besaran oleh militer kita, di negara yang
pernah menjadi bagian dari bangsa kita: Timor Timur? Selama 24 tahun, terhitung
sejak 1974-1999, adakah dari masyarakat kita, atau media kita, yang mengabarkan
bahwa telah terjadi kekerasan kemanusiaan besar-besaran, di wilayah yang
kemudian memilih melepaskan diri dengan Indonesia: Timor Timur?
Dalam buku-buku sejarah,
kita mungkin hanya mengenal .. Timor
Timur melepaskan diri dari Indonesia pada tahun sekian…, atau … Presiden pertama Timor Timur adalah Si A.. Namun
apa sejarah kita mencatat, setelah Indonesia merdeka, sebelum Timor Timur
memilih untuk melepaskan diri dengan negara Indonesia, apa yang terjadi di
tanah itu? Apa saja yang militer kita lakukan disana, dalam misinya ‘mengisi
kekosongan’? Apa sejarah kita mencacat itu? Tidak.
Timor Timur adalah
salah satu wilayah di Indonesia yang tidak terkena dampak penjajahan Belanda. Namun
lebih tragis, lebih dari 400 tahun ia dijajah oleh bangsa Portugis. Dan lebih,
sejak misi militer kita ‘mengisi kekosongan’ selama 24 tahun, terhitung sejak
1974-1999, tersimpan kejahatan HAM yang menjadi traumatik bagi warga Timor
Timur, bahkan mungkin hingga saat ini.
Berbagai kejahatan
genosida dan kejahatan kemanusiaan terjadi pada rentan waktu itu. Istri dan
juga perempuan-perempuan dipisahkan dari keluarganya. (dapat dilihat dari
cuplikan film dokumenter: Perempuan Di
Hotel Flamboyan). Mereka ditahan, dimasukkan sel, diperlakukan kasar,
bahkan diperkosa dan dipaksa untuk melayani militer-militer Indonesia di sana. Tak
jarang dari perempuan-perempuan tersebut melahirkan, membesarkan anak, dan
menyembunyikan traumatik mereka dari anak-anak dengan mengatakan bahwa ayah
mereka telah meninggal. Tak sedikit anak-anak yang kesulitan menurus akta
kelahiran, karena tidakjelasnya status sang ayah. Jika di lapangan terdapat
militer yang mati karena perang, kekejian tersebut akan dilampiaskan pada
perempuan-perempuan tahanan dalam sel. Bahkan, sempat terjadi dalam beberapa
bulan hingga dalam hitungan tahun, terdapat kesengajaan pengurangan makanan,
hingga terjadi kelaparan dimana-mana. Selama 24 tahun, kejahatan HAM tersebut
berlangsung. Tak ada media yang meliput atau memberitakan, karena seperti yang
kita tahu, presiden yang berkuasa selama 32 tahun tersebut membungkam media dan
berbagai kegiatan yang mengancam sekaligus membahayakan dirinya.
Timor Timur pernah akan
menjadi negara komunis dan bergabung dengan AS. Hal tersebut juga salah satunya
yang membuat ‘kita’ lebih keji untuk melakukan ‘apapun’ disana. Dan kita tahu, Indonesia
memiliki trauma besar terhadap PKI, organisasi besar sekitar tahun 1965 yang
menjadi momok karena paham komunismenya tersebut. Satu kesalahan besar: paham
ini dirasa mutlak menistakan agama (Islam) dan keyakinan bangsa. Sehingga buku,
dokumen, atau ajaran apapun tentang marxis dianggap anak jadah yang haram untuk
dibaca oleh putra-putri bangsa. Padahal, pemahaman kita akan marxisme: NOL. Karl
Marx mencipakan marxisme bukan untuk itu. Kita dicekoki citra buruknya tanpa
diberi kesempatan untuk membaca.
Chega!, sebuah catatan,
laporan akhir, dari Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) yang bekerja di Timor
Leste. Mandatnya yakni mengungkapkan kebenaran tentang pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh semua pihak pada tahun 1974-1999. Dari Chega! kita dapat
menemukan cacatan kelam sejarah bangsa yang tidak pernah kita ketahui, dan
dibiarkan menguap selama puluhan tahun.
Kejahatan kemanusiaan tersebut
mungkin telah berlalu sejak puluhan tahun yang lalu. Beberapa kerugian juga
telah ditebus oleh pemerintah Indonesia. Kita mungkin tidak bisa mengembalikan atau
menghilang tuntaskan trauma warga Timor Leste atas masalalu mereka tersebut. Namun,
bukan berarti kita dapat dengan mudah melupakan dan meminta mereka untuk
memaafkan begitu saja.
Melalui pengalaman
kelam tersebut, semestinya kita dapat berlapangdada untuk mengakui
kesalahan-kesalahan di masa lalu, hingga dapat dijadikan pelajaran untuk
membangun bangsa ke arah depan yang lebih bermartabat. Dari mengusut tuntas
sejarah kelam tersebut, kita dapat belajar tentang satu hal yang pasti: agar
tidak ada lagi kejahatan-kejahatan HAM berseliweran dan berkelanjutan lagi di
negeri ini.
Kamis, 30 Oktober 2014
Dialektika Hindu Jawa dalam Serat Mi’raj
Di era modern ini, di
sejumlah museum-museum di Indonesia di simpan naskah-naskah lama tinggalan dan
warisan masyarakatnya. Naskah-naskah tersebut berasal dari puluhan bahkan
ratusan tahun silam. Naskah-naskah tersebut yang kemudian dikaji dan diteliti
oleh para akademisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa waktu
terakhir, banyak dicari naskah-naskah oleh para pemburu naskah asing dari luar
negeri. Hal tersebut dikarena dalam naskah kuno terkandung suatu pengetahuan
dan warisan budaya suatu bangsa, yang mengandung banyak gagasan dan pemikiran,
yang juga memiliki implikasi dengan zaman modern ini.
Berdasarkan beberapa
penelitian yang telah dilakukan, naskah-naskah kuno tersebut memiliki peran dan
pengaruh cukup besar pada zamannya terhadap peradaban masyarakat dimana naskah
tersebut berada. Karya sastra termasuk naskah, merupakan salah satu media yang
mampu mengubah paradigma dan cara berfikir masyarakat secara missal, sehingga
kemudian dapat mengubah peradaban. Karena melalui gaya dan diksi yang tertuang
di dalam karya sastra, seseorang dapat memahami dan mengamini suatu cara
pandang tanpa adanya paksaan. Cara berfikir pengarang akan diikuti pula oleh
pembacanya. Apalagi jika karya sastra tersebut dijadikan pedoman tradisi secara
massal. Seperti pada Serat Mi’raj, serat
yang berasal dari Pamekasan Madura, yang pada masa lalu sering dibaca untuk
macapatan sebagai sarana memperkaya pengetahuan tentang Islam di masyarakat.
Sebelum Islam masuk ke
wilayah Jawa, Jawa memiliki tatanan masyarakat dengan peradaban mayoritas
Hindu. Kerajaan Hindu terbesar ketika itu ialah kerajaan Majapahit. Kemudian
karena beberapa hal, salah satu faktor utamanya karena perebutan kekuasaan, Majapahit
mengalami keruntuhan, yakni pada abad 13-15 M. Bersamaan dengan hal tersebut,
perlahan Islam masuk melalui para pedagang dari Gujarat. Islam masuk perlahan
dari wilayah pesisir yaitu utara Pulau Jawa. Dari wilayah pesisir itulah
perlahan Islam masuk ke wilayah selatan.
Tidak mudah mengubah
agama dan sistem kepercayaan masyarakat dari yang semula Hindu menjadi Islam. Apalagi
Hindu telah dianut oleh sebagian besar masyarakat sejak ratusan tahun lamanya. Agama
atau sistem kepercayaan mempengaruhi adat dan kultur masyarakatnya. Sehingga
agama mempengaruhi aktivitas yang terbentuk di dalam masyarakat. Seni dan sastra
adalah sarana yang efektif untuk memasuki adat dan kultur di dalam masyarakat. Maka
kemudian, Islam masuk salah satunya adalah melalui pengaruh karya sastra. Seperti
karya yang akan dibahas dalam tulisan ini, Serat
Mi’raj.
Serat
Mi’raj atau yang selanjtnya disingkat SM, memiliki pesan
dan nilai keislaman. Serat tersebut terbentuk berdasarkan dialektika antara
Hindu Jawa dan Islam. Islam berusaha memberi ajaran tentang nilai-nilainya tanpa
harus memberikan dogma yang bersifat memaksa. Melalui SM, masyarakat diajak
untuk memahami Islam tanpa paksaan. Salah satu caranya adalah dengan
mengakulturasikan antara cerita Hindu dan Islam. Cerita yang diambil adalah
Isra’ Mi’raj (dalam ajaran Islam) dan kemudian digubah menjadi Mi’raj Nabi. Dalam
Islam, Isra’ Mi’raj, Islam memberi pemahaman tentang surga dan neraka,
konsekuensi terhadap keduanya, serta tugas dan kewajiban seorang muslim melalui
utusan Allah yang bernma Muhammad.
Latar dan tokoh adalah
yang sangat pening alam usaha akulturasi di dalam karya sastra. Karena melalui
latar dan tokoh, orang akan lebih memahami secara konkrit alur cerita di dalam
karya sastra. Juga karena latar dan tokoh tersebut tidaklah asing dimata
mereka. Usaha pemberian pemahaman Islam terhadap masyarakat Hindu sejatinya
adalah pemberian pemahaman secara substansi atau nilai. Maka tak heran jika
beberapa cerita Islam kemudia sedikit mengalami perubahan nama, tokoh, atau
latar ceritanya ketika beredar pada masyarakat non Islam. Karena memang
pemahaman tentang keislaman disesuaikan dengan kultur dan adat masyarakat
setempat, tanpa meninggalkan pesan yang akan disampaikan. Substansi cerita
tetaplah bernash Islam.
Dalam SM, diceritakan
seorang nabi bernama Muhammad bertemu dengan bidadari dan melihat kehidupan surga
dan neraka. Ia juga ditemani oleh seorang bernama Jibrail (malaikat Jibril
dalam Islam). Kemudian diceritakan, ada kriteria perilaku masyarakat yang akan masuk
surga ataupun neraka. Misalnya, tokoh nabi Muhammad di dalam neraka menemui
seorang perempuan yang dipaksa untuk memakan daging mentah. Itu adalah
konsekuensi dari orang yang semasa hidupnya gemar membicarakan keburukan orang
lain. Diceritakan pula sang nabi bertemu dengan seorang perempuan tanpa baju
dengan bibir yang terpecah menjadi lima. Tokoh Muhammad bertanya kepada Jibrail
bahwa itu adalah konsekuensi untuk orang yang gemar mengumpat semasa hidupnya. Dari
cerita tersebut, Islam tidak memaksa masyarakat untuk memeluknya. Namun melalui
SM, berusaha dijelaskan bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, yakni ada di
surga dan neraka, dan apa yang harus dijalankan manusia selama hidup di dunia.
Melewati wilayah
pesisit Jawa, Islam kemudian perlahan masuk dan menjadi agama baru yang dipeluk
oleh masyarakatnya. Kemudian banyak bermunculan pondok-pondok pesantren yang
menjadi pusat pendidikan agama Islam. Pondok-pondok pesantren tersebut menjadi
media bagi masyarakat untuk melek huruf. Dari pondok pesantren, orang kemudian
mengenal huruf-huruf pegon. Setelah itu, karya-karya sastra banyak bermunculan,
yang merupakan gubahan teks Jawa ke Islam. Isinya pun disesuaikan dengan kultur
dan budaya masyarakat setempat, dengan tujuan tetap yaitu memberikan paradigma
dan nilai-nilai keislaman.
Karya sastra menjadi
alat yang penting dalam proses akulturasi budaya. Seperti misalnya SM. Dengan
perpaduan diksi, latar, juga penokohan yang diterima sesuai kultur
masyarakatnya, seorang menjadi tidak merasa telah digurui dengan karya sastra
tersebut. Proses dialektika tersebut kemudian mampu membawa seorang Hindu untuk
masuk ke dalam Islam. Berdasarkan apa yang telah terjadi di masa lalu, melalui
karya sastra, peradaban besar Hindu Jawa dapat dipadukan dengan Islam. Dan
terbukti, Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia saat ini. Di era
ini, tantangan bagi seorang muslim yaitu menggali kreativitas imajinatifnya
untuk menghasilkan karya-karya yang mampu memberikan pemahaman mengenai nilai
dan ajaran islam. Karena meskipun islam telah menjadi agama mayoritas, banyak
yang tak mampu meresapi ajarannya secara substansif. Apalagi di tengah jaman
modern yang semakin membuat keislaman seseorang perlu direvitalisasi kembali.
Rabu, 29 Oktober 2014
Museum Omah Munir
Kota
Batu terkenal dengan hawa dan suhunya yang dingin dan sejuk. Di kota inilah, lahir
sekaligus tinggal aktivis HAM yang kasusnya belum terselesaikan hingga saat ini,
Munir. Terletak di Jl Bukit Berbunga no 2 Sidomulyo, Batu, sejak Desember tahun
lalu, atas persetujuan keluarga dan berbagai aktivis didirikanlah museum Omah
Munir. Ini adalah museum yang mendokumentasikan kasus-kasus HAM pertama dan
satu-satunya di Asia Tenggara.
Sebelum
memasuki ruangan, pengunjung akan disambut dengan patung Munir sebagai simbolik
perjuangan HAM. Ruang utama berupa
display perjuangan Munir, yakni sinopsis kisah hidup Munir dan berbagai kasus
HAM yang pernah ia perjuangkan. di sisi lain terdapat dinding kisah Munir dan
keluarga. di sisi kanan raung utama, ditampilkan segala atribut yang digunakan
Munir ketika masa-masa perjuangannya dulu. Seperti jas almamaternya semasa
kuliah, sepatu yang dulu selalu ia gunakan dalam aktivitasnya ketika di
lapangan, kemeja yang digunakan ketika jumpa pers di mabes polri, SIM KTP STNK
dan paspor, jam tangan, bulpoin. Skripsinya yang
berjudul “Perlindungan
Hukum Terhadap Buruh dalam penetapan upah di perusahaan
industri:
studi di kota madya malang juga turut dipajang dalam museum ini. Selain itu, ada pula penghargaan-penghargaan yang pernah
diterima Munir semasa hidupnya. Museum ini juga dilengkapi dengan perpustakaan
atau ruang baca yang dapat digunakan pengunjung jika ingin melakukan kajian
atau riset tentang HAM dan penegakan hukum.
Kasus
Marsinah adalah kasus yang menjadi titik tolah perjuangan Munir dalam
mengentaskan kasus HAM di Indonesia. Sehingga dalam museum ini, ditampilkan pula foto
Marsinah dan deskripsi mengenai
kasus HAM yang menimpa dirinya.
Sekadar mengembalikan ingatan, Marsinah
adalah buruh pabrik yang berusaha memperjuangkan hak-hak buruh namun pada
akhirnya meninggal dibantai dengan sangat misterius.
Munir
merupakan aktivis HAM, yang berkecimpung mengentaskan permasalahan HAM di Indonesia yang
tak kunjung menemui titik
terang.
Museum Omah Munir didirikan dengan tujuan merawat ingatan kita tentang
perjuangan Munir dan Kemanusiaan. Museum Omah Munir adalah sebagai media untuk
menghidupkan semangat sekaligus mendokumentasikan problem-problem kemanusiaan
di Indonesia. Selain itu, Museum
Omah
Munir didirikan sebagai ruang budaya
untuk merawat kebebasan berfikir dan berekspresi. Untuk itu, Museum Omah Munir sangat terbuka bagi siapa saja yang
ingin menjadikannya
sebagai ruang diskusi.
Pada
mulanya, yang menggagas ide
didirikannya Museum Omah Munir adalah Suci, istri dari alm Munir. Dan kemudian ide tersebut didukung oleh kerabat
dan berbagai aktivis. Pada 7 September lalu, tepat 10 tahun kematian aktivis
Munir, di museum inilah diperingati 10 tahun kematian Munir, yang juga dihadiri
oleh beberapa aktivis,
budayawan, dan pegiat
perfilman. Diantaranya hadir pula Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, dan juga Butet Kartaredjasa. Berbagai kegiatan
yang diselenggarakan diantaranya yaitu diskusi kasus-kasus HAM, pemutaran film
dokumenter, penampilan hiburan dan musikalisasi puisi, dan berbagai kegiatan
lainnya, yang masih dalam topik mengenang kasus-kasus HAM yang belum juga
terselesaikan hingga kini,
dan tak kunjung ada tindakan riil dari pemerintah untuk segera mengusut tuntas.
Seperti
halnya museum-museum yang lain, Museum Omah Munir ini bukan didirikan begitu saja tanpa adanya
kegiatan di dalamnya. Kegiatan rutin pada museum ini diadakah setiap bulan,
yakni pada tanggal 7 dan 8. Seperti
yang dijelaskan oleh Yuriko Abi Pratama selaku tim kreatif
dari Museum Omah Munir, yang perlu diketahui masyarakat, konsep dari
didirikannya museum Omah Munir ini
adalah menjadikannya
sebagai rumah yang mengabadikan perjuangan Munir menuntaskan kasus-kasus HAM. Tempat
diskusi kemanusiaan yang mencerdaskan. Dan bukan menjadikannya sebagai tempat
atau basecamp untuk membentuk massa yang
memusuhi golongan-golongan tertentu.
Sejauh
ini. Pendirian Museum
Omah Munir secara independen, tidak ada kerjasama
dengan pemerintah kota Batu atau permintaan sumbangan lainnya. Melainkan donatur yang bersifat sukarelawan. Museum Omah
Munir ini berdiri secara independen, tanpa adanya tendensi kepada pihak-pihak
atau golongan-golongan tertentu. Kedepannya, pengurus dari museum ini berharap
akan ada mata pelajaran atau pembelajaran pengenai pengetahuan akan penegakan
HAM pada siswa-siswa sekolah. Sehingga para generasi muda nantinya dapat
meminimalisir munculnya kasus-kasus HAM di Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)