Minggu, 11 Januari 2015

Sebelum 'Mati'

Kita pernah pergi
Tapi bagaimanapun hangatnya jalanan,
aku selalu ingin pulang,
dipelukmu dalam-dalam
Untuk itulah aku tak bisa berhenti mencintaimu

Aku tak bisa mengungkapkannya manis-manis
Aku sedang gila
Tapi kau harus tau, aku mencintaimu
Kau harus tau, sebelum aku lupa cara untuk mengungkapkannya

Aku tak akan bilang aku takut, sayang
Bagaimana mungkin kita takut pada hal-hal yang telah pasti??
Mungkin kita akan terbunuh dan mati perlahan
Tapi kau harus tau, aku mencintaimu

Senin, 05 Januari 2015

Diamlah!!

Kita akan duduk di bawah trembesi itu.
Memandang keramaian,
kanak-kanak yang tertawa-tawa berlarian berkejaran.
Kita ada di sana.

Akan menjawab semua tanya bahwa lelah tak akan terjawab degan perjumpaan yang manis-manis.

Begitupun aku.

Kita duduk lama-lama,
tapi tak akan banyak yang kita lakukan disana
: kau lelah.



Pergi dari lelaki satu dan lari dengan lelaki yang lain hanya akan mematikanmu.
Tenanglah. Diamlah. Rasakan kelunya.

Sabtu, 27 Desember 2014

Bisakah kita berkenalan (kembali) ??

Bisakah kita berkenalan (kembali)??
Aku ingin jatuh cinta padamu di tempat-tempat yang kutentukan.
Kedai kopi, pameran buku, galeri seni.

Bisakah kita berada di sana tanpa sengaja, dan, kita saling menyapa?
Aku akan berkenalan denganmu dengan baik. Sangat baik.
Bisakah?

Perasaanku pasti akan sangat ramai ketika itu.
Ramai. Seperti pasar malam.

Atau, bisakah kita tiba-tiba ada di sana, sekarang? Di pasar malam.
Bisakah?

Blitar, Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Media yang baik harus memihak: memihak pada kebenaran

Secara pribadi, saya tidak setuju dengan pernyataan “sebuah media harus netral, tidak memihak”. Karena media memiliki kuasa untuk menggiring opini publik. Pernyataan tersebut akan menjadi bumerang ketika mendapati sebuah masyarakat yang akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan pemimpin baru.

Bagaimana ketika media tengah dihadapkan pada pilihan dua calon; si A yang ‘baik’, dan si B yang ‘kurang baik/buruk’. Apa media akan membiarkan masyarakat memilih si B dan membiarkan negara api menyerang :-D ? Atau menggiring masyarakat agar memilih si A? (Jika memang kita (media) memiliki tujuan bersama yang baik, demi kemaslahatan umat dan demi perubahan yang lebih baik)

Media yang baik harus jujur: memberitakan hal-hal yang baik tanpa menutup-nutupi (jika memang terdapat) keburukan. Biarkan masyarakat yang memilih dan menentukan. Media yang baik berpihak pada kebenaran. Bukan berpihak atas nama percukongan.

… dan, definisi kebenaran adalah jelas; sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah. Bukan kebenaran versi media A, kebenaran versi media B, dan seterusnya.

Rabu, 03 Desember 2014

Catatan Sejarah Kita, Tentang Wilayah yang Pernah Menjadi Bagian dari Negara Kita, Timor Timur: Disembunyikan!!



Selama 15 tahun, terhitung sejak 1999, adakah bagian dari sejarah kita yang menyebutkan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM besar-besaran oleh militer kita, di negara yang pernah menjadi bagian dari bangsa kita: Timor Timur? Selama 24 tahun, terhitung sejak 1974-1999, adakah dari masyarakat kita, atau media kita, yang mengabarkan bahwa telah terjadi kekerasan kemanusiaan besar-besaran, di wilayah yang kemudian memilih melepaskan diri dengan Indonesia: Timor Timur?

Dalam buku-buku sejarah, kita mungkin hanya mengenal .. Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia pada tahun sekian…, atau … Presiden pertama Timor Timur adalah Si A.. Namun apa sejarah kita mencatat, setelah Indonesia merdeka, sebelum Timor Timur memilih untuk melepaskan diri dengan negara Indonesia, apa yang terjadi di tanah itu? Apa saja yang militer kita lakukan disana, dalam misinya ‘mengisi kekosongan’? Apa sejarah kita mencacat itu? Tidak.

Timor Timur adalah salah satu wilayah di Indonesia yang tidak terkena dampak penjajahan Belanda. Namun lebih tragis, lebih dari 400 tahun ia dijajah oleh bangsa Portugis. Dan lebih, sejak misi militer kita ‘mengisi kekosongan’ selama 24 tahun, terhitung sejak 1974-1999, tersimpan kejahatan HAM yang menjadi traumatik bagi warga Timor Timur, bahkan mungkin hingga saat ini.

Berbagai kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan terjadi pada rentan waktu itu. Istri dan juga perempuan-perempuan dipisahkan dari keluarganya. (dapat dilihat dari cuplikan film dokumenter: Perempuan Di Hotel Flamboyan). Mereka ditahan, dimasukkan sel, diperlakukan kasar, bahkan diperkosa dan dipaksa untuk melayani militer-militer Indonesia di sana. Tak jarang dari perempuan-perempuan tersebut melahirkan, membesarkan anak, dan menyembunyikan traumatik mereka dari anak-anak dengan mengatakan bahwa ayah mereka telah meninggal. Tak sedikit anak-anak yang kesulitan menurus akta kelahiran, karena tidakjelasnya status sang ayah. Jika di lapangan terdapat militer yang mati karena perang, kekejian tersebut akan dilampiaskan pada perempuan-perempuan tahanan dalam sel. Bahkan, sempat terjadi dalam beberapa bulan hingga dalam hitungan tahun, terdapat kesengajaan pengurangan makanan, hingga terjadi kelaparan dimana-mana. Selama 24 tahun, kejahatan HAM tersebut berlangsung. Tak ada media yang meliput atau memberitakan, karena seperti yang kita tahu, presiden yang berkuasa selama 32 tahun tersebut membungkam media dan berbagai kegiatan yang mengancam sekaligus membahayakan dirinya.

Timor Timur pernah akan menjadi negara komunis dan bergabung dengan AS. Hal tersebut juga salah satunya yang membuat ‘kita’ lebih keji untuk melakukan ‘apapun’ disana. Dan kita tahu, Indonesia memiliki trauma besar terhadap PKI, organisasi besar sekitar tahun 1965 yang menjadi momok karena paham komunismenya tersebut. Satu kesalahan besar: paham ini dirasa mutlak menistakan agama (Islam) dan keyakinan bangsa. Sehingga buku, dokumen, atau ajaran apapun tentang marxis dianggap anak jadah yang haram untuk dibaca oleh putra-putri bangsa. Padahal, pemahaman kita akan marxisme: NOL. Karl Marx mencipakan marxisme bukan untuk itu. Kita dicekoki citra buruknya tanpa diberi kesempatan untuk membaca.

Chega!, sebuah catatan, laporan akhir, dari Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) yang bekerja di Timor Leste. Mandatnya yakni mengungkapkan kebenaran tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh semua pihak pada tahun 1974-1999. Dari Chega! kita dapat menemukan cacatan kelam sejarah bangsa yang tidak pernah kita ketahui, dan dibiarkan menguap selama puluhan tahun.

Kejahatan kemanusiaan tersebut mungkin telah berlalu sejak puluhan tahun yang lalu. Beberapa kerugian juga telah ditebus oleh pemerintah Indonesia. Kita mungkin tidak bisa mengembalikan atau menghilang tuntaskan trauma warga Timor Leste atas masalalu mereka tersebut. Namun, bukan berarti kita dapat dengan mudah melupakan dan meminta mereka untuk memaafkan begitu saja.

Melalui pengalaman kelam tersebut, semestinya kita dapat berlapangdada untuk mengakui kesalahan-kesalahan di masa lalu, hingga dapat dijadikan pelajaran untuk membangun bangsa ke arah depan yang lebih bermartabat. Dari mengusut tuntas sejarah kelam tersebut, kita dapat belajar tentang satu hal yang pasti: agar tidak ada lagi kejahatan-kejahatan HAM berseliweran dan berkelanjutan lagi di negeri ini.

Kamis, 30 Oktober 2014

Dialektika Hindu Jawa dalam Serat Mi’raj


Di era modern ini, di sejumlah museum-museum di Indonesia di simpan naskah-naskah lama tinggalan dan warisan masyarakatnya. Naskah-naskah tersebut berasal dari puluhan bahkan ratusan tahun silam. Naskah-naskah tersebut yang kemudian dikaji dan diteliti oleh para akademisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa waktu terakhir, banyak dicari naskah-naskah oleh para pemburu naskah asing dari luar negeri. Hal tersebut dikarena dalam naskah kuno terkandung suatu pengetahuan dan warisan budaya suatu bangsa, yang mengandung banyak gagasan dan pemikiran, yang juga memiliki implikasi dengan zaman modern ini.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, naskah-naskah kuno tersebut memiliki peran dan pengaruh cukup besar pada zamannya terhadap peradaban masyarakat dimana naskah tersebut berada. Karya sastra termasuk naskah, merupakan salah satu media yang mampu mengubah paradigma dan cara berfikir masyarakat secara missal, sehingga kemudian dapat mengubah peradaban. Karena melalui gaya dan diksi yang tertuang di dalam karya sastra, seseorang dapat memahami dan mengamini suatu cara pandang tanpa adanya paksaan. Cara berfikir pengarang akan diikuti pula oleh pembacanya. Apalagi jika karya sastra tersebut dijadikan pedoman tradisi secara massal. Seperti pada Serat Mi’raj, serat yang berasal dari Pamekasan Madura, yang pada masa lalu sering dibaca untuk macapatan sebagai sarana memperkaya pengetahuan tentang Islam di masyarakat.
Sebelum Islam masuk ke wilayah Jawa, Jawa memiliki tatanan masyarakat dengan peradaban mayoritas Hindu. Kerajaan Hindu terbesar ketika itu ialah kerajaan Majapahit. Kemudian karena beberapa hal, salah satu faktor utamanya karena perebutan kekuasaan, Majapahit mengalami keruntuhan, yakni pada abad 13-15 M. Bersamaan dengan hal tersebut, perlahan Islam masuk melalui para pedagang dari Gujarat. Islam masuk perlahan dari wilayah pesisir yaitu utara Pulau Jawa. Dari wilayah pesisir itulah perlahan Islam masuk ke wilayah selatan.
Tidak mudah mengubah agama dan sistem kepercayaan masyarakat dari yang semula Hindu menjadi Islam. Apalagi Hindu telah dianut oleh sebagian besar masyarakat sejak ratusan tahun lamanya. Agama atau sistem kepercayaan mempengaruhi adat dan kultur masyarakatnya. Sehingga agama mempengaruhi aktivitas yang terbentuk di dalam masyarakat. Seni dan sastra adalah sarana yang efektif untuk memasuki adat dan kultur di dalam masyarakat. Maka kemudian, Islam masuk salah satunya adalah melalui pengaruh karya sastra. Seperti karya yang akan dibahas dalam tulisan ini, Serat Mi’raj.
Serat Mi’raj atau yang selanjtnya disingkat SM, memiliki pesan dan nilai keislaman. Serat tersebut terbentuk berdasarkan dialektika antara Hindu Jawa dan Islam. Islam berusaha memberi ajaran tentang nilai-nilainya tanpa harus memberikan dogma yang bersifat memaksa. Melalui SM, masyarakat diajak untuk memahami Islam tanpa paksaan. Salah satu caranya adalah dengan mengakulturasikan antara cerita Hindu dan Islam. Cerita yang diambil adalah Isra’ Mi’raj (dalam ajaran Islam) dan kemudian digubah menjadi Mi’raj Nabi. Dalam Islam, Isra’ Mi’raj, Islam memberi pemahaman tentang surga dan neraka, konsekuensi terhadap keduanya, serta tugas dan kewajiban seorang muslim melalui utusan Allah yang bernma Muhammad.
Latar dan tokoh adalah yang sangat pening alam usaha akulturasi di dalam karya sastra. Karena melalui latar dan tokoh, orang akan lebih memahami secara konkrit alur cerita di dalam karya sastra. Juga karena latar dan tokoh tersebut tidaklah asing dimata mereka. Usaha pemberian pemahaman Islam terhadap masyarakat Hindu sejatinya adalah pemberian pemahaman secara substansi atau nilai. Maka tak heran jika beberapa cerita Islam kemudia sedikit mengalami perubahan nama, tokoh, atau latar ceritanya ketika beredar pada masyarakat non Islam. Karena memang pemahaman tentang keislaman disesuaikan dengan kultur dan adat masyarakat setempat, tanpa meninggalkan pesan yang akan disampaikan. Substansi cerita tetaplah bernash Islam.
Dalam SM, diceritakan seorang nabi bernama Muhammad bertemu dengan bidadari dan melihat kehidupan surga dan neraka. Ia juga ditemani oleh seorang bernama Jibrail (malaikat Jibril dalam Islam). Kemudian diceritakan, ada kriteria perilaku masyarakat yang akan masuk surga ataupun neraka. Misalnya, tokoh nabi Muhammad di dalam neraka menemui seorang perempuan yang dipaksa untuk memakan daging mentah. Itu adalah konsekuensi dari orang yang semasa hidupnya gemar membicarakan keburukan orang lain. Diceritakan pula sang nabi bertemu dengan seorang perempuan tanpa baju dengan bibir yang terpecah menjadi lima. Tokoh Muhammad bertanya kepada Jibrail bahwa itu adalah konsekuensi untuk orang yang gemar mengumpat semasa hidupnya. Dari cerita tersebut, Islam tidak memaksa masyarakat untuk memeluknya. Namun melalui SM, berusaha dijelaskan bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, yakni ada di surga dan neraka, dan apa yang harus dijalankan manusia selama hidup di dunia.
Melewati wilayah pesisit Jawa, Islam kemudian perlahan masuk dan menjadi agama baru yang dipeluk oleh masyarakatnya. Kemudian banyak bermunculan pondok-pondok pesantren yang menjadi pusat pendidikan agama Islam. Pondok-pondok pesantren tersebut menjadi media bagi masyarakat untuk melek huruf. Dari pondok pesantren, orang kemudian mengenal huruf-huruf pegon. Setelah itu, karya-karya sastra banyak bermunculan, yang merupakan gubahan teks Jawa ke Islam. Isinya pun disesuaikan dengan kultur dan budaya masyarakat setempat, dengan tujuan tetap yaitu memberikan paradigma dan nilai-nilai keislaman.
Karya sastra menjadi alat yang penting dalam proses akulturasi budaya. Seperti misalnya SM. Dengan perpaduan diksi, latar, juga penokohan yang diterima sesuai kultur masyarakatnya, seorang menjadi tidak merasa telah digurui dengan karya sastra tersebut. Proses dialektika tersebut kemudian mampu membawa seorang Hindu untuk masuk ke dalam Islam. Berdasarkan apa yang telah terjadi di masa lalu, melalui karya sastra, peradaban besar Hindu Jawa dapat dipadukan dengan Islam. Dan terbukti, Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia saat ini. Di era ini, tantangan bagi seorang muslim yaitu menggali kreativitas imajinatifnya untuk menghasilkan karya-karya yang mampu memberikan pemahaman mengenai nilai dan ajaran islam. Karena meskipun islam telah menjadi agama mayoritas, banyak yang tak mampu meresapi ajarannya secara substansif. Apalagi di tengah jaman modern yang semakin membuat keislaman seseorang perlu direvitalisasi kembali.

Rabu, 29 Oktober 2014

Museum Omah Munir

Kota Batu terkenal dengan hawa dan suhunya yang dingin dan sejuk. Di kota inilah, lahir sekaligus tinggal aktivis HAM yang kasusnya belum terselesaikan hingga saat ini, Munir. Terletak di Jl Bukit Berbunga no 2 Sidomulyo, Batu, sejak Desember tahun lalu, atas persetujuan keluarga dan berbagai aktivis didirikanlah museum Omah Munir. Ini adalah museum yang mendokumentasikan kasus-kasus HAM pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara.
            Sebelum memasuki ruangan, pengunjung akan disambut dengan patung Munir sebagai simbolik perjuangan HAM.  Ruang utama berupa display perjuangan Munir, yakni sinopsis kisah hidup Munir dan berbagai kasus HAM yang pernah ia perjuangkan. di sisi lain terdapat dinding kisah Munir dan keluarga. di sisi kanan raung utama, ditampilkan segala atribut yang digunakan Munir ketika masa-masa perjuangannya dulu. Seperti jas almamaternya semasa kuliah, sepatu yang dulu selalu ia gunakan dalam aktivitasnya ketika di lapangan, kemeja yang digunakan ketika jumpa pers di mabes polri, SIM KTP STNK dan paspor, jam tangan, bulpoin. Skripsinya yang berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Buruh dalam penetapan upah di perusahaan industri: studi di kota madya malang juga turut dipajang dalam museum ini. Selain itu, ada pula penghargaan-penghargaan yang pernah diterima Munir semasa hidupnya. Museum ini juga dilengkapi dengan perpustakaan atau ruang baca yang dapat digunakan pengunjung jika ingin melakukan kajian atau riset tentang HAM dan penegakan hukum.
            Kasus Marsinah adalah kasus yang menjadi titik tolah perjuangan Munir dalam mengentaskan kasus HAM di Indonesia. Sehingga dalam museum ini, ditampilkan pula foto Marsinah dan deskripsi mengenai kasus HAM yang menimpa dirinya. Sekadar mengembalikan ingatan, Marsinah adalah buruh pabrik yang berusaha memperjuangkan hak-hak buruh namun pada akhirnya meninggal dibantai dengan sangat misterius.
            Munir merupakan aktivis HAM, yang berkecimpung mengentaskan permasalahan HAM di Indonesia yang tak kunjung menemui titik terang. Museum Omah Munir didirikan dengan tujuan merawat ingatan kita tentang perjuangan Munir dan Kemanusiaan. Museum Omah Munir adalah sebagai media untuk menghidupkan semangat sekaligus mendokumentasikan problem-problem kemanusiaan di Indonesia. Selain itu, Museum Omah Munir didirikan sebagai ruang budaya untuk merawat kebebasan berfikir dan berekspresi. Untuk itu, Museum Omah Munir sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadikannya sebagai ruang diskusi.
            Pada mulanya, yang menggagas ide didirikannya Museum Omah Munir adalah Suci, istri dari alm Munir. Dan kemudian ide tersebut didukung oleh kerabat dan berbagai aktivis. Pada 7 September lalu, tepat 10 tahun kematian aktivis Munir, di museum inilah diperingati 10 tahun kematian Munir, yang juga dihadiri oleh beberapa aktivis, budayawan, dan pegiat perfilman. Diantaranya hadir pula Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, dan juga Butet Kartaredjasa. Berbagai kegiatan yang diselenggarakan diantaranya yaitu diskusi kasus-kasus HAM, pemutaran film dokumenter, penampilan hiburan dan musikalisasi puisi, dan berbagai kegiatan lainnya, yang masih dalam topik mengenang kasus-kasus HAM yang belum juga terselesaikan hingga kini, dan tak kunjung ada tindakan riil dari pemerintah untuk segera mengusut tuntas.
            Seperti halnya museum-museum yang lain, Museum Omah Munir ini bukan didirikan begitu saja tanpa adanya kegiatan di dalamnya. Kegiatan rutin pada museum ini diadakah setiap bulan, yakni pada tanggal 7 dan 8. Seperti yang dijelaskan oleh Yuriko Abi Pratama selaku tim kreatif dari Museum Omah Munir, yang perlu diketahui masyarakat, konsep dari didirikannya museum Omah Munir ini adalah menjadikannya sebagai rumah yang mengabadikan perjuangan Munir menuntaskan kasus-kasus HAM. Tempat diskusi kemanusiaan yang mencerdaskan. Dan bukan menjadikannya sebagai tempat atau basecamp untuk membentuk massa yang memusuhi golongan-golongan tertentu.

            Sejauh ini. Pendirian Museum Omah Munir secara independen, tidak ada kerjasama dengan pemerintah kota Batu atau permintaan sumbangan lainnya. Melainkan donatur yang bersifat sukarelawan. Museum Omah Munir ini berdiri secara independen, tanpa adanya tendensi kepada pihak-pihak atau golongan-golongan tertentu. Kedepannya, pengurus dari museum ini berharap akan ada mata pelajaran atau pembelajaran pengenai pengetahuan akan penegakan HAM pada siswa-siswa sekolah. Sehingga para generasi muda nantinya dapat meminimalisir munculnya kasus-kasus HAM di Indonesia.