Sabtu, 22 Oktober 2016

Web

Suka Duka Menjadi Mahasiswa FIB UNAIR


Menjadi mahasiswa dari fakultas yang bassic ilmunya humaniora, secara kebiasaan, tentu berbeda dengan teman-teman yang berasal dari fakultas dengan bassic ilmu eksakta. Dari mulai suasana perkuliahan, hubungan dosen dengan mahaiswa, lingkungan kampus, hingga perspektif masyarakat akan keilmuan kami.

Berikut suka duka teman-teman yang menempuh studi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

  1. Kuliah kami tidak hanya berisi ceramah dan praktikum
    Karena notabene fakultas humaniora, kehidupan kampus kami tidak hanya diisi dengan kuliah dengan ceramah dan praktikum semata. Kami mempelajari ‘seni kehidupan’. Sehingga diantara matakuliah kami, ada yang output-nya orasi, menghasilkan karya sastra, membuat film pendek, berkomunikasi dengan orang asing, pentas teater.
    Menuju pintu masuk Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
    Laboratorium kami hanya satu jenis: laboratorium bahasa. Beberapa kuliah kami diisi dengan nonton film dan nonton pertunjukan seni. Dari praktik dan dan output yang dihasilkan, diharapkan lulusan kami sesuai dengan salah satu misi kami: Mendharmabaktikan keahlian dalam bidang ilmu humaniora dan seni kepada masyarakat. 

    2. Selamat datang untuk: kebebasan berpikir dan berpendapat
    Karena kami berada di Faculty of Humanities, kami sangat menjunjung tinggi akan kebebasan berfikir dan berpendapat. Beberapa aliran pemikiran, teori-teori pemikiran filsuf, kami pelajari setiap hari. Sehingga, kami pun tumbuh menjadi manusia yang tidak berpemikiran ‘saklek’. Meskipun tidak semuanya dan perbedaan itu selalu ada, tapi kami punya ilmunya.
  2. Salah satu spaces di sebelah utara gedung Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
  3. Senioritas tidak kental terasa
    Terkadang, teman-teman yang berasal dari fakultas sains dan ilmu eksakta, mengeluhkan senioritas yang begitu kental terasa. Bukan hanya antar mahasiswa, namun juga antar dosen dengan mahasiswa.
    Kalau di Fakultas Ilmu Budaya, bahkan kami bisa memanggil dosen kami yang masih muda dengan panggilan ‘mas’ atau ‘mbak’. Bukan berarti tidak hormat, tapi lebih agar kami semua akrab.

  4. Kami punya kantin PUJASERA yang dikunjungi hampir semua mahasiswa
    Coba deh, tanya kepada semua sivitas UNAIR, khususnya yang berdomisili di kampus B. Hampir bisa dipastikan semua dari mereka tidak asing dengan kantin PUJASERA. Yup, di FIB UNAIR, ada kantin super lengkap dan murah yang oleh karenanya, dikunjungi oleh bukan mahasiswa FIB saja.
    Berbagai macam menu tersedia, harganya pun sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa. Bisa disurvey, deh. Mulai dari makanan berat seperti nasi goreng, nasi campur, penyetan, pecel. Ada juga bakso, mie ayam, gado-gado, siomay, es campur, es oyen. Saking banyaknya susah untuk disebutin semua.

    Untuk teman-teman yang doyan nongrong, berbagai camilan dari yang ringan hingga berat ada di kantin PUJASERA.

    Kantin PUJASERA FIB UNAIR, via https://blog.mamikos.com/wp-content/uploads/2016/08/1g.jpg
    Kalau tidak salah ukur, kantin PUJASERA adalah kantin terluas se-UNAIR. Maka tidak heran kalau menu yang disajikan juga sangat beragam.
  5. Suka ditanya, “Kuliah di FIB mau jadi apa?”

    Bete, sih, waktu ada pertanyaan, “Mau jadi apa kuliah di FIB?”. Barangkali pertanyaan semacam ini sudah tidak asing lagi untuk teman-teman yang kuliah di FIB. Mungkin karena kultur masyarakat kita yang belum bisa menghargai betul studi-studi seni dan sastra.

    Namun begitu, pertanyaan semacam itu tidak lantas membuat kami mutung dan marah. Justru, akan menjadi pemicu semangat untuk terus berbenah agar ke depan, keilmuan kami tidak disepelekan begitu saja di masyarakat.
    Banyak kok, alumni kami yang menjadi orang-orang hebat di luar sana. Btw, Mba Dian Sastro Wardoyo yang cantik, pintar, dan menawan itu, alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya juga, lho, meskipun bukan alumni UNAIR. Hehehe.

    Pintu masuk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, via http://fib.unair.ac.id/fib/images/news/sejarahfib.jpg
    Ilmu-ilmu yang kami pelajari, sastra misalnya, kini bukan hanya berbicara seputar teks semata. Di luar sana, softskill yang kami miliki siap untuk dibenturkan dengan para pegiat seni.
  6. Welcome to: kaos oblong dan rambut gondrong
    Utamanya laki-laki. Meskipun tidak semuanya, banyak diantara kami yang sudah tidak asing lagi dengan pakaian kaos oblong dan rambut yang sengaja gondrong. Hingga terkadang, ketika ada kegiatan berkumpul dengan semua elemen mahasiswa, pakaian dan model dandanan kami hampr bisa diidentifikasi. Entah mengapa begitu.
    Kami juga sudah biasa dicap tidak rapi. Hehe.. mudah-mudahan untuk yang satu itu, kami bisa berbenah.

    Untuk teman-teman yang tertarik dengan segala informasi seputar Universitas Airlangga, kalian bisa mengunjungi laman resmi kami di http://www.unair.ac.id/ , atau portal online kami di http://news.unair.ac.id/

    Sekian, dan, Hidup Mahasiswa!!

Selasa, 18 Oktober 2016

Kangen Jatuh Cinta



Oktober, 2016

Kangen
saat-saat
jatuh cinta

Sebab,
selalu ada
yang mendebarkan
di sana

Saat
mengangkat telepon

Saat menatap
layar handphone

Saat
mendengar
bunyi sepeda motor

Saat
menatap langit

Saat,
saat semangat
seringkali muncul
tiba-tiba

Kini, 23,
hidup
bukan hanya
soal cinta

Minggu, 25 September 2016

Menelpon ibu adalah satu-satunya cara untuk menemukan kewarasan

Bagaimanapun, aku adalah gadismu yang selalu butuh kau jewer, Bu.

Sekitar dua minggu yang lalu aku memutuskan untuk membelikan ibu handphone. Sebab, adik yang biasanya kutelpon ketika aku kangen dan ingin ngobrol dengan ibu, kini sudah mulai menetap di Malang untuk melanjutkan sekolah.

Meskipun sudah memegang handphone, ibu bukan tipe orang yang terbiasa mengobrol tanpa bertatap muka secara langsung. Bukan hanya dengan aku, dengan siapa saja. Bahkan hingga dua minggu ini, Ibu masih suka kesulitan ketika akan menelponku dengan ponselnya yang kubeli sengaja bukan bertipe smartphone. Alhasil, aku lah yang kemudian bilang, “Ibu, aku saja yang menelpon. Ibu tidak usah menelpon,” kataku.

Komunikasi kita tidak diciptakan bagus melalui alat-alat elektronik yang cangggih. Bahkan, ketika teman-temanku yang lain sudah terbiasa menghubungi orangtua mereka melalui aplikasi canggih semacam whatsapp, BBM, hingga facebook, aku dan ibu masih saja orang yang canggung jika harus mengobrol lewat telepon.

Sebab itu, ibu lah yang lebih sering menutup telepon terlebih dahulu ketika aku menelpon. Tapi beberapa waktu ini aku selalu merengek, seperti kemarin, meminta agar kita mengobrol lebih lama lagi. Padahal tidak ada percakapan yang begitu diantara kami. Aku hanya bertanya hal-hal yang remeh; apa masakan yang ibu olah, sedang kemana bapak, adakah yang mengantar ibu ke pasar, dan hal-hal biasa lainnya.

Namun begitu, hingga saat ini, kuakui menelpon ibu adalah satu-satunya caraku menemukan kewarasan. Berada jauh dari ibu, tak kurang dari 150 kilometer, membuatku menemukan apa-apa yang hilang setelah beberapa detik mendengar ibu bersuara. Setelah menelpon ibu, aku bisa saja sekaligus menjadi rajin, semangat bekerja, tidak malas-malasan salat dan ngaji, dan hal-hal waras lainnya.

Ibu. Aku selalu rindu saat-saat bersamamu. Aku selalu sedih ketika pulang dan mendapati ibu yang mulai keriput. Aku lantas bilang, “Ibu jangan keriput dulu,” kataku sambil mengusap pipinya. Tapi ibu lantas hanya tertawa dan memelukku. Kitapun tertawa.

Jangan mengkhawatirkanku, Bu. Biar aku saja yang mengkhawatirkanmu. Biar semua orang tahu, aku dan anak-anakmu yang lain tidak pernah membuatmu khawatir.

Surabaya, 27 September 2016
Tertanda,

Gadismu yang tak pernah berhenti merindukanmu

Kamis, 09 Juni 2016

Wisata Karimunjawa Bersama Mahasiswa Asing

Pada Desember tahun lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kepulauan Karimunjawa, salah satu surga Indonesia yang terletak di wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lebih dari cerita yang dituturkan beberapa teman, Karimunjawa ternyata menyimpan keindahan dan lanskap yang menakjubkan. Kekayaan laut, bukit, pantai, panorama alam, semuanya menyediakan pemandangan yang tak membuat bosan mata.

Saya bekerja di Humas salah satu kampus terkemuka di Surabaya. Waktu itu, selama 3 hari, saya mengikuti puluhan mahasiswa asing yang melakukan serangkaian kegiatan penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Karimunjawa. Selama tiga hari itu pula, kami mengunjungi berbagai tempat di Karimunjawa. Kami melakukan wisata bahari, mengunjungi tracking hutan mangrove, dan mengunjungi penangkaran hiu.

Kala itu, setelah melewati perjalanan Jepara-Karimunjawa selama hampir dua jam menggunakan KMC Ekspress Bahari, kami istirahat dan menghabiskan malam di salah satu hotel yang tidak jauh dari pelabuhan Karimunjawa.

Hari berikutnya, kami mengunjungi tracking hutan mangrove yang terletak di Desa Kemojan, Pulau Kemujan. Tracking hutan mangrove yang kami kunjungi merupakan kawasan yang cukup luas. Jangan khawatir karena ada guide yang memandu perjalanan serta menjelaskan mengenai pengelolaan mangrove di sana. Banyak ilmu baru yang kami dapat, khususnya tentang pentingnya konservasi hutan mangrove.

Di tracking hutan mangrove, kami juga diajak untuk menaiki menara kayu dengan tinggi puluhan meter yang didirikan di atas rawa. Ada perasaan was-was ketika menaiki menara. Namun guide meyakinkan kepada kami bahwa ini aman. Hanya saja, yang naik ke atas menara tidak diperbolehkan melebihi 20 orang. Sehingga kami harus bergantian. Dari atas menara, kami bisa melihat hamparan hutan mangrove yang luas dan menakjubkan.

View yang bisa dilihat dari menara kayu yang terletak di hutan mangrove, Karimunjawa.
Di hari berikutnya, kami diajak untuk mengunjungi penangkaran hiu yang terletak di Desa Karimunjawa, Pulau Menjangan Besar. Kami diberi kesempatan untuk bertanya-tanya seputar pengelolaan penangkaran hiu di sana. Kami juga diberi izin untuk mencebur ke dalam kolam tempat penangkaran hiu-hiu. Ini adalah pengalaman pertama saya berada satu kolam dengan ikan hiu. Saya pikir, ini akan mengerikan. Ternyata mereka tidak melakukan gigitan seperti yang sebelumnya saya bayangkan.

Kunjungan di penangkaran hiu selesai dan selanjutnya kami melakukan wisata bahari. Seharian itu, kami melakukan wisata bahari dengan mengunjungi beberapa pulau dan melakukan snorkeling di sana. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan snorkeling. Tadinya saya takut karena tidak memiliki kemampuan berenang. Ketakutan saya lantas hilang, karena pemandu snorkeling meyakinkan saya bahwa olahraga ini tidak akan membuat saya tenggelam.

Selain itu, ketika snorkeling, kami dilengkapi dengan peralatan seperti pelampung, sepatu katak, snorkel, dan juga masker selam. Sehingga alat-alat tersebut sangat membantu bagi para pemula snorkeling.

Kami melakukan snorkeling di dua tempat yang berbeda. Sungguh, keduanya menyajikan pemandangan alam bawah laut yang menakjubkan. Kami bisa melihat karang dan ikan-ikan yang cantik. Saya tidak tahu persis jenis ikan dan tumbuhan apa saja yang saya jumpai ketika itu. Namun yang pasti, itu adalah pemandangan luar biasa yang tidak bisa saya dapat jika saya hanya mengunjungi bibir pantai.

Melakukan knorkeling di Karimunjawa dan melihat alam bawah laut yang beraneka rupa
Kami menikmati perjalanan dengan kapal untuk beralih dari pulau satu ke pulau yang lain. Dari atas kapal, karena warna air yang begitu biru dan jernih, kami bisa melihat pemandangan alam bawah laut. Selama perjalanan, dari atas kapal kami juga melihat pulau-pulau lain yang masuk dalam Kepulauan Karimunjawa ini. Beberapa mahasiswa mancanegara saya dapati tak henti-hentinya memuji keindahan panorama ini. Beberapa dari mereka mengatakan, wilayah ini lebih indah dari wisata alam yang pernah mereka datangi di Bali.

Perjalanan wisata bahari di Karimunjawa bersama mahasiswa asing
Kabarnya, banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi di Karimunjawa. Namun karena terbatasnya waktu, kami harus segera pulang menuju Surabaya dan melanjutkan aktivitas kembali. Sungguh perjalanan wisata Karimunjawa yang tidak bisa saya lupakan. Semoga saya bisa kembali ke sana, suatu saat nanti.




Surabaya, 10 Juni 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Mengingat Masa Kecil Ditengah-tengah Ramadhan



Ramadhan bagi saya, adalah mengingat masa-masa kecil dimana anak-anak kampung, termasuk saya, melakukan tadarus selepas sholat tarawih di langgar. Langgar kuno berukuran tak lebih dari 10x7 m yang selalu penuh jamaah di awal-awal ramadhan. Di hari-hari biasa, jamaah ibu dan bapak-bapak tua yang mendominasi.

Kami tadarus menamatkan satu juz dalam semalam. Supaya nanti ketika ramadhan usai, kami sudah khatam. Tak jarang kami tadarus sambil ngantuk-ngantuk. Maklum, bocah kecil. Tapi hal lain yang membuat kami senang adalah adanya ta’jil yang disuguhkan ibu-ibu di langgar tempat kami tadarus. Jenis ta’jil yang disuguhkan bukan jajanan enak yang banyak digemari anak-anak zaman sekarang. Palingan, ya, ketela goreng, singkong goreng, kolak, es cendol, atau makanan pembuka buka puasa khas desa lainnya. Tapi begitu saja kami sudah senang bukan kepalang.

Seusai tadarus kami tak langsung pulang. Ada saja acara-acara kecil yang kami lakukan agar tak lekas pulang dan disuruh bapak atau ibu untuk segera tidur. Macam-macam. Bermain petak umpet. Petasan. Kalau pas teman laki-laki kami membawa dan menyalakan mercon, kami para perempuan seraya menutup telinga hanya bisa pasrah. Sambil merengek agar petasan dihentikan dan diganti dengan permainan yang lain.

Atau, entah siapa yang memulai duluan, biasanya kami saling bercerita tentang memedi, hantu, genderuwo dan sejenisnya, hingga masing-masing dari kami takut untuk pulang. Anak-anak kecil tak pernah memiliki pengalaman empirik tentang hantu, tapi selalu gemar untuk saling bercerita.

Kami hidup di kampung, dimana sekitar rumah kami, utamanya belakang rumah, masih berupa tegalan. Pepohonan yang tumbuh berupa pohon bambu dan pohon besar khas desa lainnya. Jarak diantara rumah kami cukup berjauhan, tidak mepet. Sebagian besar masyarakat memiliki tanah yang luas, meskipun rumah tak seluas tanah yang mereka miliki.

Ramadhan tanpa prasangka, tanpa praduga, tanpa gengsi, tanpa riya’ dan tanpa kesibukan mencari ‘nama’.

Surabaya, 8 Juni 2016

Senin, 05 Oktober 2015

Catatan Semester Akhir (?)

Beberapa hal terjadi begitu cepat, beberapa yang lain justru terasa sangat lambat untuk dijalani. Ini semacam sebuah curhatan hidup, atau setidaknya, curhatan seorang mahasiswi tingkat akhir yang sebetulnya belum bernafsu untuk lulus cepat-cepat. Lulus diwaktu yang tepat, jika tidak bisa dibilang pembelaan, kukira itu lebih baik.
Aku seorang mahasiswi tingkat akhir, yang, untuk bisa membuat orang tua, sanak saudara, dan juga para tetangga kemudian menjadi senang, aku harus segera lulus kuliah dan kerja yang enak dengan gaji yang banyak. Sekarang, di kamar kosku, di dekat kampus di pusat kota Surabaya, untuk kesekian kalinya aku dianugerahi rasa yang begitu malas untuk mengerjakan skripsi. Kenyataan itu harus kuterima di tengah teman-teman yang telah bertebaran menyelesaikan ujian skripsi, telah selesai yudisium, dua gelombang telah usai wisuda malah.
Sekarang, di dalam kamar kosku ukuran 3x4 yang berantakan, aku sedang dikejar deadline. Jangan salah. Apa kau pikir ini deadline skripsi? Selain dianugerahi sebagai mahasiswi tingkat akhir yang belum usai skripsinya, aku juga dianugerahi kesibukan sebagai jurnalis warta kampus, yang dengan itu menyebabkan kemalasanku untuk mengerjakan tugas akhir skripsi semakin menjalar. Oh Tuhan, berilah kekuatan penuh pada hambamu yang sedang dilanda kemalasan mengerjakan skripsi ini.
Skripsi. Kenyataan lapangan yang harus kau terima, siapapun kamu yang memutuskan untuk mau-maunya kuliah. Skripsi. Kenyataan paling empiris yang harus dijalani setiap mahasiswa, entah yang berasal dari anak pejabat, selebriti, musisi, dan siapapun kamu yang telah mau-maunya menghabiskan 4 tahun dalam hidup untuk kuliah. Skripsi. Ibarat beverage yang tetap harus masuk ke perutmu sebelum kamu resmi dinyatakan lulus sebagai sarjana. Tak peduli meskipun kamu telah mendapat pekerjaan dan sebetulnya beratnya menanggung skripsi tak masuk dalam praktik kerjamu. Seperti halnya aku ini.
Aku seorang mahasiswi tingkat akhir. Dulu, di kampus sejak masih semester unyu, aku pegiat pers mahasiswa (persma). Jangan menyebut aktivis kampus. Sebab predikat itu merupakan beban moral tersendiri bagiku. Di persma, kemudian yang kurasakan aku menjadi akrab dengan dunia tulis-menulis. Mengkritisi kehidupan kampus, akademik, progres program kerja kampus, dan berbagai permasalahan lainnya yang kukira waktu itu sangat penting untuk ditelusuri dan diketahui oleh seluruh penduduk kampus.
Di persma, aku kemudian menjadi akrab untuk mengikuti kajian-kajian, pelatihan-pelatihan, mewakili organisasi untuk menghadiri pelatihan yang diadakan persma lain di luar kota dan bahkan luar provinsi. Disana, aku merasa bertemu dengan rekan-rekan yang juga sevisi denganku. Beberapa dari mereka progresif sekali. Ada yang dipanggil dekanat berkali-kali karena tulisan kritiknya. Hingga ada yang pada akhirnya harus drop out dari kampus. Tapi ada hal yang jelas mereka perjuangkan di sana: keadilan dan kemanusiaan. Berkumpul bersama mereka selalu merasa muda dan penuh perjuangan yang heroik bagiku waktu itu.
Menginjak semester akhir, kehidupan persma perlahan kulepaskan. Oleh sebab karena jabatan penting sebagai petinggi organisasi telah dilepas dan harus diganti dengan yang lain untuk melanjutkan proses kaderisasi. Lepas dari persma, aku memutuskan untuk kemudian lebih menekuni kuliahku, setidaknya untuk mulai merencanakan pengerjaan tugas akhir skripsi. Aku bertekad untuk rajin pergi ke perpustakaan, berdiskusi dengan teman dan dosen, membaca buku dan jurnal-jurnal ilmiah. Intinya, aku lebih memperdalam kemampuan akademikku untuk kemudian bisa menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan cepat.
Namun nyatanya aku bukan tipikal mahasiswi yang gemar menatap layar monitor dan membaca buku berjam-jam. Kehidupan flat macam itu sungguh sangat membosankan. Berkutat dengan metode, teori, tenik penelitian, wawancara. Setiap hari tak ada hal lain yang kau pikirkan selain itu. Sungguh, jika berada dalam posisi ini, mungkin kamu akan merasakan hal yang sama denganku. Tak menentu. Kecuali, kau memang seorang akademis akut, yang berambisi untuk segera lulus kuliah, melanjutkan studi, atau segera bekerja, dan menikah. Kecuali kau tipikal orang macam itu.
Bersama skripsi, aku memutuskan untuk mencari kesibukan lain yang dengannya aku tetap bisa mengerjakan tugas akhir. Menjadi jurnalis warta kampus. Ya. Aku memutuskan menjadi jurnalis warta kampus dan menjadi bagian dari humas kampus. Awalnya aku berfikir bahwa ini sangat bertentangan dengan aktivitasku yang pernah menjadi pegiat persma. Menjadi semacam jinak dan patuh terhadap kebijakan yang diberikan kampus. Intinya, ikut membangun kampus bersama-sama mencapai cita-cita. Menghalau segala berita buruk tentang kampus, dan menggantinya dengan prestasi-prestasi yang telah dicapai warga kampus.
Empat bulan pertama aku menjadi kontributor. Bekerja di lapangan hanya jika diminta. Aku tak harus datang ke kantor, apalagi menghabiskan waktu di kantor setiap hari. Dengan menjadi kontributor warta kampus, aku masih punya waktu banyak untuk pergi ke luar kota, berlibur bersama teman-teman, nongkrong. Aku sangat menikmati aktivitasku itu. Tugas akhir skripsi untuk segera lulus?? Tenang. Tetap kukerjakan meski pelan-pelan.
Namun aktivitas menjadi kontributor warta kampus hanya berlangsung empat bulan saja. Selajutnya yang terjadi hingga saat ini adalah aku dikontrak untuk menjadi staf, dan dengan begitu harus mematuhi aturan jam kantor: telah berada di kantor pada pagi hari dan pulang sore harinya. Sungguh, aku kaget awalnya. Aku yang terbiasa tidur pagi dan kadangkala masih suka bangun terlambat, harus mulai menyesuaikan jam kantor, tanpa bisa main-main di hari aktif kerja. Bahkan untuk bisa ngopi di kantin kampus aku harus nyolong-nyolong bersama waktu liputan di luar. Apalagi untuk bisa keluar kota beberapa hari. Hanya sebatas rencana.
Sebagai staf di warta kampus yang telah kujalani tiga bulan ini, selanjutnya yang terjadi adalah aku menjadi akrab untuk mengobrol, atau setidaknya wawancara dengan para petinggi kampus. Mengetahui progres-progres kampus. Ikut berperan menjalankan visi misi kampus. Menjadi malaikat bagi terbukanya akses kampus untuk semakin melebarkan sayap. Dan skripsi?? Menjadi semacam momok yang selalu melayang-layang di Sabtu Mingguku. Oh Tuhan.
Seiring berjalannya waktu, berada di tengah orang-orang yang telah benar-benar ‘bekerja’, terkadang membuatku merasa menjadi lucu ketika di kampus dan mendapati teman-teman yang masih eksis sebagai ‘aktivis’. Teman-teman yang sebagian besar merupakan adik tingkat dengan aktivitas mereka sebagai ‘aktivis progresif kampus’. Mereka yang aktif demo di depan gedung DPR, melakukan aksi di depan rektorat menuntut agar mahasiswa terpenuhi hak-hak pendidikannya sebagai warga negara, konvoi di jalan ketika hari-hari besar nasional, hari buruh misalnya. Aku terkadang merasa menjadi asing dengan aktivitas-aktivitas itu. Tapi memang aktivitas semacam itu, meski tak banyak membuahkan hasil, kukira harus tetap hidup. Dengan merevolusi strategi tentunya.
Dan, kukira selalu ada benarnya kata Tan Malaka: Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.
Sementara itu di lain hal, aku juga harus melihat kenyataan bahwa teman-teman yang telah wisuda beberapa diantaranya belum juga mendapat kerja. Pontang-panting menawarkan keahlian diri ke berbagai perusahaan. Atau, telah mendapat kerja namun tak sesuai dengan keinginan dan passionnya.
Ada juga yang masih mempertahankan status sebagai mahasiswa, dengan dalih ‘masih skripsi’. Bagi mereka, lulus 4 tahun atau 3,5 tahun kurang mendalami ilmu. Terlalu cepat dan instan. SKS yang dibebankan pada mahasiswapun terhitung besar. Sehingga terkadang mahasiswa tak bisa bebas mengikuti ormek dan ormik jika SKS kuliah yang dibebankan tinggi. Golongan mahasiswa macam itu kukira ada benarnya. Tapi terkadang aku curiga. Tidak juga menyelesaikan skripsi karena masih ingin memperdalam ilmu, atau sesungguhnya belum siap dengan kenyataan yang harus diterima ketika lulus nanti? Bekerja, mengabdi, mengaplikasikan ilmu. Bisa jadi belum siap untuk itu.
Kadangkala, aku juga melihat teman-teman aktivis yang dulu dalam ingatanku dengan gagahnya mati-matiaan demo membela hak rakyat, membela kaum proletar, memperjuangkan harga BBM, memperjuangkan hak buruh, telah kendur semangatnya. Lantas bagaimana perjuangannya di kampus dulu? Lantas kemana api yang menyala-nyala di dadanya waktu itu? Hilang begitu saja? Seakan-akan aku melihat di matanya bahwa dunia telah berubah.
Hal yang saat ini seringkali membuatku menjadi sangat rindu adalah ketika mengikuti kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Menonton pentas teater. Menonton pertunjukan musik akustik. Musikalisasi puisi. Pembacaan puisi. Drama. Suara mahasiswa ramai bersahut-sahutan di tengah acara. Menyruput kopi. Menyanyi. Menari. Tertawa. Aku selalu rindu momen-momen itu.
Seiring dengan berbagai kenyataan itu, sebagai mahasiswi perantau tingkat akhir, kau pasti tahu apa yang terjadi ketika aku pulang kampung. Seperti momen lebaran yang terjadi beberapa bulan lalu. Orang tua, tetangga, sanak saudara, Pak RT, ibu-ibu arisan. Kau pasti tahu pertanyaan apa yang mereka lontarkan ketika bertemu denganku dimomen-momen silaturahim. Jika berada dalam keadaan begitu, kau mungkin hanya bisa tersenyum, atau mengalihkan pembicaraan ke topik-topik lain seperti yang kulakukan.
Sementara itu, sampai saat ini, ibu adalah sosok paling malaikat yang paling tidak bisa membuatku untuk berkata ‘tidak’. Ibu. Makhluk paling ajaib yang paling bisa memadamkan api yang membara didada yang telah siap meletus kapanpun kau mau. Ibu. Adalah makhluk paling segalanya yang ketika aku berniat untuk ijin memperpanjang studimu dan dia hanya pelan berkata ‘segera selesaikan skripsmimu’. Jika sudah begitu, aku bisa apa??

Kapan sidang skripsi?
Kapan wisuda?

Mana pasanganmu? - - - - - - - - - - -