Sabtu, 22 Oktober 2016

Suka Duka Menjadi Mahasiswa FIB UNAIR


Menjadi mahasiswa dari fakultas yang bassic ilmunya humaniora, secara kebiasaan, tentu berbeda dengan teman-teman yang berasal dari fakultas dengan bassic ilmu eksakta. Dari mulai suasana perkuliahan, hubungan dosen dengan mahaiswa, lingkungan kampus, hingga perspektif masyarakat akan keilmuan kami.

Berikut suka duka teman-teman yang menempuh studi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

  1. Kuliah kami tidak hanya berisi ceramah dan praktikum
    Karena notabene fakultas humaniora, kehidupan kampus kami tidak hanya diisi dengan kuliah dengan ceramah dan praktikum semata. Kami mempelajari ‘seni kehidupan’. Sehingga diantara matakuliah kami, ada yang output-nya orasi, menghasilkan karya sastra, membuat film pendek, berkomunikasi dengan orang asing, pentas teater.
    Menuju pintu masuk Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
    Laboratorium kami hanya satu jenis: laboratorium bahasa. Beberapa kuliah kami diisi dengan nonton film dan nonton pertunjukan seni. Dari praktik dan dan output yang dihasilkan, diharapkan lulusan kami sesuai dengan salah satu misi kami: Mendharmabaktikan keahlian dalam bidang ilmu humaniora dan seni kepada masyarakat. 

    2. Selamat datang untuk: kebebasan berpikir dan berpendapat
    Karena kami berada di Faculty of Humanities, kami sangat menjunjung tinggi akan kebebasan berfikir dan berpendapat. Beberapa aliran pemikiran, teori-teori pemikiran filsuf, kami pelajari setiap hari. Sehingga, kami pun tumbuh menjadi manusia yang tidak berpemikiran ‘saklek’. Meskipun tidak semuanya dan perbedaan itu selalu ada, tapi kami punya ilmunya.
  2. Salah satu spaces di sebelah utara gedung Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
  3. Senioritas tidak kental terasa
    Terkadang, teman-teman yang berasal dari fakultas sains dan ilmu eksakta, mengeluhkan senioritas yang begitu kental terasa. Bukan hanya antar mahasiswa, namun juga antar dosen dengan mahasiswa.
    Kalau di Fakultas Ilmu Budaya, bahkan kami bisa memanggil dosen kami yang masih muda dengan panggilan ‘mas’ atau ‘mbak’. Bukan berarti tidak hormat, tapi lebih agar kami semua akrab.

  4. Kami punya kantin PUJASERA yang dikunjungi hampir semua mahasiswa
    Coba deh, tanya kepada semua sivitas UNAIR, khususnya yang berdomisili di kampus B. Hampir bisa dipastikan semua dari mereka tidak asing dengan kantin PUJASERA. Yup, di FIB UNAIR, ada kantin super lengkap dan murah yang oleh karenanya, dikunjungi oleh bukan mahasiswa FIB saja.
    Berbagai macam menu tersedia, harganya pun sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa. Bisa disurvey, deh. Mulai dari makanan berat seperti nasi goreng, nasi campur, penyetan, pecel. Ada juga bakso, mie ayam, gado-gado, siomay, es campur, es oyen. Saking banyaknya susah untuk disebutin semua.

    Untuk teman-teman yang doyan nongrong, berbagai camilan dari yang ringan hingga berat ada di kantin PUJASERA.

    Kantin PUJASERA FIB UNAIR, via https://blog.mamikos.com/wp-content/uploads/2016/08/1g.jpg
    Kalau tidak salah ukur, kantin PUJASERA adalah kantin terluas se-UNAIR. Maka tidak heran kalau menu yang disajikan juga sangat beragam.
  5. Suka ditanya, “Kuliah di FIB mau jadi apa?”

    Bete, sih, waktu ada pertanyaan, “Mau jadi apa kuliah di FIB?”. Barangkali pertanyaan semacam ini sudah tidak asing lagi untuk teman-teman yang kuliah di FIB. Mungkin karena kultur masyarakat kita yang belum bisa menghargai betul studi-studi seni dan sastra.

    Namun begitu, pertanyaan semacam itu tidak lantas membuat kami mutung dan marah. Justru, akan menjadi pemicu semangat untuk terus berbenah agar ke depan, keilmuan kami tidak disepelekan begitu saja di masyarakat.
    Banyak kok, alumni kami yang menjadi orang-orang hebat di luar sana. Btw, Mba Dian Sastro Wardoyo yang cantik, pintar, dan menawan itu, alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya juga, lho, meskipun bukan alumni UNAIR. Hehehe.

    Pintu masuk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, via http://fib.unair.ac.id/fib/images/news/sejarahfib.jpg
    Ilmu-ilmu yang kami pelajari, sastra misalnya, kini bukan hanya berbicara seputar teks semata. Di luar sana, softskill yang kami miliki siap untuk dibenturkan dengan para pegiat seni.
  6. Welcome to: kaos oblong dan rambut gondrong
    Utamanya laki-laki. Meskipun tidak semuanya, banyak diantara kami yang sudah tidak asing lagi dengan pakaian kaos oblong dan rambut yang sengaja gondrong. Hingga terkadang, ketika ada kegiatan berkumpul dengan semua elemen mahasiswa, pakaian dan model dandanan kami hampr bisa diidentifikasi. Entah mengapa begitu.
    Kami juga sudah biasa dicap tidak rapi. Hehe.. mudah-mudahan untuk yang satu itu, kami bisa berbenah.

    Untuk teman-teman yang tertarik dengan segala informasi seputar Universitas Airlangga, kalian bisa mengunjungi laman resmi kami di http://www.unair.ac.id/ , atau portal online kami di http://news.unair.ac.id/

    Sekian, dan, Hidup Mahasiswa!!

1 komentar: