Selasa, 06 Maret 2018

Surat Cinta Buat Dedek Gemes yang Mau dan Sedang Kuliah di Semester Awal

Sumber: pixabay



Pertama-tama, saya menulis ini karena ingin berbuat baik. Tak ingin bahwa apa yang pernah dialami mas dan mbak senior di perkuliahan terulang kembali kepada adik-adiknya.

Terutama, pada adik-adik yang sedang mempersiapkan diri memasuki bangku perkuliahan, juga untuk adik-adik mahasiswa yang saat ini sedang berada di semester awal perkuliahan. Agar apa? Agar supaya tak terperosok di lubang yang sama, mungkin, seperti senior-senior yang sudah-sudah.

Saya adalah alumnus mahasiswa jurusan sastra. Tepatnya sastra Indonesia. Seperti stereotipe yang berkembang di masyarakat, anak sastra itu nyeleneh dan absurd. Beda dengan yang lain. Dan penilaian itu tak sepenuhnya salah.

Sejak jaman baheula oleh kakak-kakak senior, kami, tepatnya saya dan mahasiswa sastra yang lain, dididik untuk nyeleneh, nyastra, ‘anti kemapanan’, beda dari yang lain pokoknya. Kami di-umbah sejak baru masuk kuliah. Sejak ospek malah. Oleh senior-senior yang dihimpun dalam organisasi himpunan mahasiswa.

Nah, artikel ini akan membahas kurang lebih tentang alasan Mengapa mahasiswa (sastra) sebaiknya jangan hanya ikut himpunan mahasiswa saja?

. . .

Suatu malam dalam obrolan cukup ngelantur, seorang teman yang pernah bergabung dalam himpunan mahasiswa tiba-tiba berseloroh, “Sekarang, senior-senior yang dulu paling ditakuti itu, jadi apa mereka? Bahkan, menolong diri sendiripun nggak mampu,” ucapnya.

Yha, saya cuma mbatin, “Sialan, itu kan seniormu dan senior kita bersama dulu.”

Kata-kata itu ia lontarkan lantaran teman pacarnya, dapat proyekan besar bikin video dan bisa nggandeng teman yang lain. Berbagi rizki. Menolong teman. Ia lantas teringat begitu loyalnya ia di hima dulu hingga melupakan banyak hal kegiatan mahasiswa di luar hima ~

Waktu itu, kami sebagai mahasiswa cukup manut didoktrin ini itu. Mahasiswa lain yang nggak suka cukup menghindar dan nggak ikut kegiatan. Kegiatan tahunan mahasiswa sastra Indonesia di kampus saya, kalau saya tidak salah sebut, antara lain Malam Chairil Anwar, Malam Keakraban (MK) untuk mahasiswa baru, dan Bulan Bahasa atau yang biasanya dikemas dalam Festifal Bahasa dan Sastra.

Dalam setahun, mahasiswa yang berbagung dalam hima harus meng-create acara sebagus mungkin untuk tiga acara besar itu. Tentu, acara yang nggak bagus menurut senior, akan dilepeh (baca: dimuntahkan) begitu saja. Cara ngelepeh-nya macam-macam. Seperti, membully habis salah satu acara yang sedang berlangsung. Hingga kami yang membuat acara merasa gagal bukan main.

Saya tidak sedang berkelakar bahwa kegiatan hima itu nirfaedah. Hanya saja, ayolah, perluas pertemananmu hingga kamu tahu bahwa dunia mahasiswa itu tak hanya dunia hima saja. Banyak sekali yang lain. Dulu, yang nggak ikut-ikutan hima, seakan-akan kami ini cupu, nggak loyal dan peduli sama jurusan, dan sebagainya dan sebagainya.

Saya pribadi, merasa sedikit beruntung karena mau memperjuangkan apa yang saya suka: nulis. Tapi tetap saja. Usai lulus kuliah dan (harus) bekerja, seringkali saya bergumam lirih, “Sialan. Dulu waktu kuliah kok nggak tau ini ya.” Atau, “Dulu waktu kuliah aku kemana aja ya kok nggak ikut itu.”

Selain perkuliahan yang –bagi saya– cukup monoton, aktivitas kampus yang cukup memberi warna hanya keikutsertaan saya pada lembaga pers mahasiswa, konferensi ilmiah, dan Program Kreativitas Mahasiswa. Apalah, cuma itu bekal yang saya punya.

Mau jadi mahasiswa seperti apa kamu?

Dalam sebuah kesempatan menghadiri pertunjukan musik sendratasik salah satu perguruan tinggi keguruan di Surabaya, sama menjumpai Mbak Gema Swaratyagita. Seorang komponis yang –sesuai namanya– sudah menggema hingga daratan Eropa sana. Kedatangannya menonton sendratasik mungkin juga karena dia salah satu alumni yang cukup diperhitungkan kiprahnya.

Usai pertunjukan selesai, Mbak Gema memberi masukan kepada mahasiswa penampil. Dia dapat sambutan baik di sana. Lalu, di saat yang bersamaan, saya cuma bisa mbatin, "Cuk, Mba Gema iki alumni jurusanku pisan lo”. Tapi siapa yang tau?

Bagaimana nggak keren. Sejak mahasiswa, Mbak Gema ini sudah bersahabat dengan dunia broadcasting, menjadi penyiar, jurnalis, mengajar musik. Kini, ia sudah jadi komponis yang mencipta puluhan karya.

Lantas, dikadik, mau jadi (alumni) yang seperti apa kalian?

Dunia mahasiswa selain perkuliahan

Kerja di humas kampus semakin membuka mata batin saya bahwa jurusan saya dan mahasiswanya bukan apa-apa jika dibanding jurusan lain yang sudah dulu lebih punya nama. Apa penyebabnya? Mindset mahasiswa terbuka. Selalu ingin belajar. Tau bahwa dunia terus berkembang. Yha, meski gak semua mahasiswa begitu dan harus begitu.

Di humas pula, karena mengelola portal online kampus, bahkan sudah puluhan kali saya menulis prestasi atau sekadar kegiatan mahasiswa yang ternyata sangat beragam. Di luar hima, sungguh banyak kegiatan yang bisa diikuti mahasiswa.

Beragam kegiatan yang diikuti mahasiswa itupun bukan hanya sekadar pelengkap CV dan pemenuh SKS (Sistem Kredit Semester) maupun SKP (Sistem Kredit Prestasi) perkuliahan. Pengalaman dan jaringan adalah perkara yang tak ternilai.

Misalnya saja, ikut penelitian dosen atau Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), ikut temu ilmiah dan  konferensi, magang di perusahaan, pertukaran mahasiswa, kursus, atau menggeluti bisnis dan entrepreneur.

Kalau ikut penelitian dosen, sudah pasti kamu akan belajar tentang penelitian dan bergaul dengan nara sumber yang notabene para akademisi. Kalau ikut PKM, kamu akan lebih mendalami tentang persoalan yang jadi fokus kajianmu. Inipun adalah persoalan yang diaplikasikan untuk masyarakat, baik bidang sains dan teknologi maupun sosial humaniora. Otomatis, ketika diajak menyelesaikan persoalan di masyarakat (tentu yang menjadi bidangmu), kamu tidak kagok.

Kalau ikut temu ilmiah dan konferensi, sudah pasti kemampuan meneliti dan analisismu oke. Dari konferensi satu ke konferensi lain kamu akan banyak bertukar pendapat, ide, pikiran, dan gagasan dengan akademisi lintas jenjang studi, lintas profesi, bahkan dengan peneliti sekalipun.

Kalau ikut pertukaran mahasiswa, apalagi di luar negeri, sudah pasti kamu akan dapat ilmu, pengalaman, dan jaringan lintas negara. Bukan hanya ilmu pelajaran perkuliahan, tapi juga ilmu beradaptasi dengan masyarakat di negara lain.

Kalau ikut magang di perusahaan tertentu, sudah pasti kamu punya mental yang kuat sebelum nanti betulan masuk dunia kerja.

Kalau ikut kurus, sudah pasti keahlianmu dalam bidang tertentu semakin terasah. Baik kurus bahasa asing, kursus musik, maupun kursus keterampilan tertentu. Ini akan berguna kelak, sesuai dengan kesibukan yang ingin kamu geluti pasca lulus kuliah nanti.

Kalau menyibukkan diri dengan pengembangkan bisnis dan entrepreneur, sudah pasti pasca lulus kamu siap untuk membuka usaha secara mandiri.

Bukannya next step setelah lulus kuliah harus kamu pikirkan sedari duduk di bangku perkuliahan?

Percayalah, dedek-dedek gemash, saat memasuki dunia kerja nanti, apapun next step yang akan kamu jalani, pengalaman menghabiskan waktu selama kuliah akan sangat berguna. Baik untuk bekerja maupun untuk melanjutkan pendidikan.

Kalau usai lulus kamu ingin langsung bekerja, HRD tidak akan menanyakan mana sertifikat seikutsertaan hima-mu. Yang akan lebih banyak ditanyakan adalah apa keahlian yang kamu miliki? Apa saja kesibukan yang kamu habiskan selama perkuliahan? Sehingga, HRD merasa kamu layak untuk dipertimbangkan karena keahlian dan etos kerjamu.

Kalau lulus kuliah S1 kamu nggak ingin bekerja dan ingin melanjutkan studi S2, satu di antara yang kemungkinan besar kamu cari adalah beasiswa. Bisa dicek sekarang. Beragam beasiswa akan menargetkanmu syarat-syarat tertentu. Seperti skill kepemimpinan, keikutsertaan organisasi, prestasi lomba dan kompetisi yang pernah diperoleh, skor bahasa asing, kemampuan/keahlian tertentu, hingga pengalaman bekerja.

Memang, latihan kepemimpinan bisa didapat dari hima. Tapi bukan ketrampilan. Apalagi, hima hanya dalam skala jurusan. Tukar pemikiran dan ide dari berbagai bidang ilmu tentu sangat kurang jika pergaulanmu hanya bersama kawan dari jurusan yang sama. Padahal, diskusi-diskusi bersama mahasiswa lintas jurusan itu penting untuk mendapatkan perspektif yang berbeda.

Lantas, poin mana yang ingin atau sudah kamu miliki wahai dedek (calon) mahasiswa?

Dan begitulah. Ratusan sertifikat kepanitiaan hima saja tidak akan pernah bisa menolongmu.

. . .

Saya menulis ini bersama dengan introspeksi diri. Betapa banyak hal yang abai saya ikuti namun waktu cepat dan terus berganti. Ini mungkin sebuah curhat, mungkin juga kritik. Perguruan tinggi memiliki mandat untuk mencetak lulusan yang berguna bagi masyarakat. Bukan malah ‘tidak tau mau ngapain’ ketika sudah terjun di masyarakat.

Oleh karenanya, saya pribadi diam-diam berharap, kampus mampu mencetak mahasiswa yang berkualitas. Artinya, lulusan yang punya ketrampilan, softskill, dan mampu berdikari.

Seorang teman lulusan perguruan tinggi teknik terkemuka di Surabaya yang memutuskan untuk membuka usaha sendiri berkata, “Nggak ada, atau mungkin sangat sedikit, lulusan perguruan tinggi yang benar-benar siap kerja. Kecuali jurusan straigh seperti kedokteran. Tanpa jaringan di luar kampus juga bakalan susah cari kerja. Lihat aja teman-teman yang IPK-nya selangit, susah juga dia nyari kerja”.

“Dadi, ojo umek ae nang jero kampus,” katanya.

Dan itu sungguh-sungguh terjadi pasca lulus dari perguruan tinggi.

PR besar program studi di perguruan tinggi adalah menyiapkan lulusan yang punya soft skill, punya ketrampilan. Sehingga ketika lulus, dia bukan orang yang masih bertanya “Mau ngapain saya?”

Ehm, saya rasa ini bukan hanya PR jurusan, tapi PR bersama. Dosen menyiapkan kurikulum untuk anak didik agar mampu bersaing di era global ini. Mahasiswa secara aktif menggali apa yang menjadi passion mereka.

Lalu, para mahasiswa yang menjadi senior di kampus, biarlah adik-adikmu menggali potensi besar yang mereka miliki. Jangan kurung mereka dalam sebuah komunitas yang tak membuat mereka berkembang. Kalau selera senior dengan junior berbeda, entah dalam sastra, musik, atau apalah itu, bukan berarti yang junior lebih buruk. Itu hanya masalah selera dan waktu.

Dalam sebuah seminar, seorang penulis kenamaan Dewi Lestari pernah berkata yang kurang lebih bunyinya adalah, “Kenali potensi dirimu. Passion yang kamu tekuni akan menjadi skill. Skill adalah modal besar yang banyak dicari saat ini.”

“Kalau jadi dokter, pastikan jadi dokter terbaik. Kalau jadi insinyur, pastikan jadi insinyur terbaik. Kalau jadi arsitek, pastikan jadi arsitek terbaik,” tegas Mbak Dee.

Lantas, mau jadi mahasiswa seperti apa kamu? Mahasiswa tetaplah manusia yang suatu saat akan lulus dan menghadapi (kejamnya) dunia yang sesungguhnya.

Kecuali, kamu punya pasangan yang bisa dengan lantang bilang, "Kamu nggak usah ikut bersaing di dunia kerja, itu berat, biar aku saja. Aku punya link kerja yang mapan. Juga bapakku punya kekayaan tujuh turunan".

Ini baru masyoook.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar